Tampilkan postingan dengan label sentra usaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sentra usaha. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Januari 2013

SENTRA ANYAMAN BAMBU MAJALENGKA






Peluang Usaha

 
Rabu, 11 Januari 2012 | 14:43  oleh Hafid Fuad
SENTRA ANYAMAN BAMBU MAJALENGKA
Sentra anyaman bambu Majalengka: Masih bertahan walau mulai tersisih (1)
Kendati zaman berubah, produk kerajinan anyaman bambu masih menjadi primadona masyarakat. Salah satu sentranya yang sampai sekarang masih bertahan ada di Majalengka, Jawa Barat. Walau tak sejaya dulu, kerajinan bambu masih menjadi tambatan hidup warga di daerah itu.

Sebelum berbagai produk rumah tangga dari bahan aluminium atau plastik masuk ke pasaran, dulu, ibu-ibu rumah tangga membekali perabot rumah tangganya dengan berbagai produk anyaman bambu. Biasanya kerajinan bambu itu biasanya untuk mengisi perlengkapan dapur dan peralatan rumah tangga lainnya.

Namun seiring usia zaman, kerajinan anyaman dari bambu perlahan tersisihkan. Kemajuan teknologi membuat produk dari anyaman bambu kalah dengan produk-produk pengganti yang lebih tahan lama.

Toh, usaha kerajinan yang terbilang rumit itu tetap hidup. Salah satu sentranya ada di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Usaha tersebut menjadi sumber penghasilan sampingan masyarakat di beberapa kecamatan di Majalengka seperti di Sukahaji, Rajagaluh, Palasah, Leuwimunding, dan Sindangwangi.

Salah satu desa yang sebagian besar warganya menggantungkan rezeki dari kerajinan anyaman bambu ada di Salagedang, Kecamatan Sukahaji. Usaha anyaman bambu sampai saat ini masih menjadi lumbung pendapatan penduduk setempat.

Desa tersebut bisa ditempuh selama 30 menit melalui jalan darat dari pusat kota Majalengka menuju arah Cirebon. Tidak terlalu sulit untuk menemukan sentra kerajinan tersebut, karena kita bisa melihat beberapa kios yang menjajakan kerajinan bambu beraneka bentuk. Kios tersebut sebagai penanda bahwa masyarakat di sekitar merupakan perajin anyaman bambu. "Deretan kios di pinggiran jalan itu merupakan tempat berjualan penduduk sekitar," kata Jamil, salah satu perajin anyaman bambu.

Masuk ke dalam desa lagi, kita bisa menemukan aktivitas sesungguhnya para perajin anyaman bambu tersebut. Tumpukan produk anyaman yang belum selesai banyak teronggok di samping-samping rumah penduduk. Ada juga onggokan bilah-bilah bambu yang baru saja disiapkan untuk membuat anyaman. Bambu yang baru disayat itu diletakkan di tempat yang terlindung dari panas dan hujan supaya tidak cepat rusak ketika ingin dibuat produk anyaman.

Jamil, perajin di desa Salagedang mengungkapkan, hampir seluruh warga di desanya berprofesi sebagai perajin anyaman bambu. Dia sendiri telah menekuni usaha ini sejak 10 tahun lalu mengikuti jejak sang orang tua yang juga perajin anyaman bambu.

Kebanyakan profesi ini ditekuni kaum pria. Tapi para ibu rumah tangga juga ikut turun tangan membuat berbagai anyaman, mulai dari kipas tangan, bakul nasi, kukusan, hingga topi tani.

Menurut Jamil, usaha ini bagi para ibu rumah tangga hanya sampingan saja pengisi waktu luang saja selain bertani dan mengurus anak. "Biasanya suami akan menularkan kemampuannya kepada istri untuk menganyam," ujar Jamil yang berusia 42 tahun itu.

Penduduk menjual produk anyaman itu dengan harga bervariasi. Misalnya kipas tangan Rp 2.000 untuk ukuran kecil, bakul Rp 10.000 untuk ukuran besar. Namun, menurut Jamil, produk yang paling banyak dibuat penduduk sekitar adalah boboko atau bakul kecil yang seharga Rp 7.000 per buahnya.

Sebulan ia bisa menjual dua kodi produk anyamannya itu dengan harga Rp 150.000 per kodi. "Saya lebih suka membuat bakul yang lebih kecil karena lebih banyak peminatnya," ujar Jamil.

Semua perajin di desa tersebut akan menjual produknya kepada seorang pengepul yang mempunyai kios di jalan utama kabupaten. Pengepul ini akan membeli produk anyaman dengan sistem grosir dan menjualnya kembali langsung di kios tersebut.

Nuroh, pemilik kios kerajinan bambu, bilang bahwa kerajinan bambu itu dijual kepada pelancong atau ke pedagang lain yang berasal dari Majalengka dan luar kota. Selain sekitar Majalengka, pembeli kerajinan mereka juga berasal dari Jakarta. "Omzet saya dalam sebulan bisa mencapai Rp 30 juta," ujarnya senang. 
 
Kamis, 12 Januari 2012 | 13:45  oleh Hafid Fuad
SENTRA ANYAMAN BAMBU MAJALENGKA, JAWA BARAT
Sentra anyaman bambu Majalengka: Harga jual anyaman bambu sulit naik (2)
Usaha anyaman bambu belum menjadi sumber ekonomi unggulan yang menjanjikan bagi para perajin di Desa Salagedang, Sukahaji, Majalengka. Hal ini lantaran harga jual produk anyaman bambu sulit bergerak naik. Agar asap dapur tetap mengepul, umumnya para perajin di desa tersebut mempunyai usaha lain.

Dus, kini kegiatan menganyam bambu hanya dilakukan bak sekadar mengisi waktu luang saja demi menambah pemasukan bagi warga sekitar. Mata pencaharian utama penduduk sekitar kebanyakan justru berdagang barang kelontong atau berdagang pakaian.

Hal itu diakui Tatang Sukmana, salah satu warga Desa Salagedang yang memilih mengandalkan sandaran rezeki dari berdagang baju di pasar Kecamatan Sukahaji, ketimbang menganyam bambu. Apalagi, sang istri juga tak terlalu mahir membuat kerajinan dari bambu itu.

Pilihan berdagang juga dilakoni oleh banyak warga lain di sentra produk anyaman bambu tersebut untuk menyambung hidup. Menurut Tatang, kesulitan yang dialami oleh perajin ialah rendahnya nilai jual kerajinan anyaman bambu.

Padahal untuk membuat sebuah produk anyaman membutuhkan waktu yang lumayan lama dan ketelatenan agar produknya layak jual. "Harga produk anyaman sulit sekali untuk naik seperti barang lain," ujar Tatang.

Proses pembuatan produk anyaman bambu memakan waktu lama karena memang pengerjaannya yang masih sederhana. Para perajin hanya berbekal peralatan sederhana, seperti celurit, golok, gergaji, dan tali untuk membuat aneka produk kerajinan dari bilah bambu.

Tatang juga mengatakan, mayoritas perajin tidak mempunyai target produksi harian atau mingguan. Itu lantaran mereka hanya menganggap pekerjaan itu sebagai sambilan semata sehingga mereka mengerjakan ketika memiliki waktu senggang saja.

Kondisi ini juga yang dikeluhkan para pengumpul produk anyaman bambu yang mengaku kesulitan mendapat kepastian pasokan. Sebab, setiap kali pasokan anyaman bambu datang, terkadang sudah langsung ludes terjual oleh pembeli pertama.

Padahal terkadang, pesanan membanjir. "Saya tidak bisa menjanjikan barang pesanan tersebut akan ada atau tidak," ujar Nuroh Jamin, salah satu pengepul yang memiliki kios produk anyaman bambu di Salagedang.

Nuroh bilang, penjualan produk anyaman bambu paling ramai ketika menjelang Lebaran tiba. Pada saat itu, banyak pembeli dari luar Majalengka memborong produk kerajinan dari bambu itu untuk dijual kembali. Mereka berasal dari Cikarang, Cikampek, Sumedang, bahkan juga dari Jakarta.

Karena pasokan dari perajin seret, Nuroh tak hanya mengandalkan pasokan produk anyaman bambu dari desanya saja. "Saya dan suami tidak hanya menunggu pasokan, namun aktif mencari pasokan dari tempat lain," ujar Nuroh. Ini untuk berjaga-jaga bila permintaan dari pembeli tiba-tiba melimpah. 
 
Jumat, 13 Januari 2012 | 15:33  oleh Hafid Fuad
SENTRA ANYAMAN BAMBU MAJALENGKA, JAWA BARAT
Sentra anyaman bambu Majalengka: Kredit boleh, yang penting barang cepat laku (3
Selain menjual ke pengepul, para perajin anyaman bambu di Desa Salagedang, Majalengka, Jawa Barat, juga memiliki cara lain yang unik agar produknya laris. Mereka menjual anyaman bambu dengan sistem yarnen (bayar panen). Sasarannya para penduduk desa sekitar wilayah mereka. Kalau hanya menjual ke pengepul, pendapatan mereka cuma Rp 300 000 hingga Rp 400 000 per bulan.

Tapi dengan sistem yarnen, penghasilan mereka bisa meningkat berlipat. Umumnya, para petani yang memanfaatkan penjualan ala yarnen ini. Perajin menjual produknya ke petani secara kredit dan baru dibayar setelah masa panen tiba.

Meski berisiko, cara penjualan ini ternyata cukup ampuh mendongkrak pendapatan perajin. Meski musiman, tapi permintaan cukup banyak. Terkadang perajin terpaksa harus membeli barang dari pengepul untuk dijual lagi dengan sistem bayar setelah panen. Umumnya, para perajin menjual produk anyaman bambu tersebut ke desa-desa sekitar wilayah mereka.

Tatang Sukmana, salah satu warga desa Salagedang, Sukahaji, mengatakan, banyak perajin di desanya yang menjual produk anyaman bambu dengan sistem yarnen ini.

Bahkan, bila permintaan melimpah, ada perajin yang nekat mengambil risiko meminjam dana ke bank sebagai modal berjualan.

Tapi itu tak berlaku bagi perajin yang modalnya sudah tebal. Tatang mengakui sistem penjualan secara kredit dan baru dibayar setelah panen itu memang berisiko. Tapi, kata dia, dengan cara ini pula, perajin bisa menaikkan harga jual produk sampai dua kali lipat.

Harga naik berlipat karena tenggat waktu pembayaran bisa mencapai tiga bulan hingga masa panen tiba.

Barang yang dibeli si pembeli pun biasanya tidak sedikit, sehingga duit yang berputar pun cukup besar. "Sambil menunggu masa pembayaran, para perajin ini pun menganyam," ujar Tatang.

Risiko dari sistem penjualan seperti ini adalah ketika petani gagal panen. Kalau sudah begitu, perajin hanya bisa pasrah dan biasanya mereka memperpanjang jatuh tempo pembayaran tiga bulan lagi untuk masa panen berikutnya. Kalau gagal lagi, ya siap-siap saja merugi.

Risiko yang besar ini pula yang membuat Nuroh Jamin, perajin dan pemilik kios anyaman bambu di Salagedang, ogah ikut-ikutan menjual anyaman bambu dengan sistem yarnen.

Ia lebih memilih menjadi pedagang grosir anyaman saja. "Percuma jika punya banyak pelanggan kalau tidak bisa ditagih," ujar Nuroh.

Tapi, sistem yarnen ini memang banyak dilakukan oleh para perajin di desanya. Sebab, kalau hanya pasif menunggu pembeli, rezeki lama datangnya.
Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-anyaman-bambu-majalengka-masih-bertahan-walau-mulai-tersisih-1
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-anyaman-bambu-majalengka-harga-jual-anyaman-bambu-sulit-naik-2
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-anyaman-bambu-majalengka-kredit-boleh-yang-penting-barang-cepat-laku-3

Kamis, 10 Januari 2013

SENTRA MOBIL BEKAS KARAWACI, TANGERANG

Peluang Usaha

 
Kamis, 05 Januari 2012 | 12:38  oleh Fahriyadi
SENTRA MOBIL BEKAS KARAWACI, TANGERANG
Sentra mobil bekas Karawaci: Berburu Mobil Bekas di Pinggiran Jakarta (1)
Bila Anda butuh mobil bekas, tak ada salahnya berkunjung ke Jalan Imam Bonjol, Karawaci, Tangerang. Di sini ada 60 showroom yang menjual banyak pilihan mobil bekas. Pelanggan mobil di lokasi ini tidak hanya dari Tangerang, juga dari Serang, Cilegon, dan Jakarta.

Bagi Anda yang tinggal di Tangerang dan berniat membeli mobil bekas, tak ada salahnya datang ke kawasan Karawaci, Kota Tangerang, Banten. Tepatnya di Jalan Imam Bonjol ada satu lokasi yang khusus dijadikan area penjualan mobil bekas. Tak kurang ada 60 showroom berada di sini.

Bagi warga Karawaci, area penjualan mobil bekas ini dikenal dengan nama Kompleks Serba Oto Palem Semi. Kompleks ini sudah berdiri sejak 2007, dan kini sudah menjadi rujukan pasar mobil bekas di Tangerang dan sekitarnya.

Untuk menuju ke sentra ini juga tak susah. Bila Anda berdomisili di Jakarta bisa melewati jalan tol Jakarta-Merak dan keluar di pintu tol Karawaci. Dari pintu tol ke lokasi hanya berjarak sekitar 3 kilometer. Jika Anda datang dari kota Tangerang dan menunggang kendaraan pribadi, hanya butuh waktu sekitar 20 menit dari Terminal Cimone untuk sampai ke Serba Oto.

Sebagai sentra, tentu di sini tersedia ratusan mobil bekas aneka merek dan aneka tahun pembuatan. Selain itu, Anda pun dengan mudah memilih mobil karena hampir setiap showroom memajang mobil dagangannya di area parkir.

Selain warga Tangerang atau Jakarta, pembeli mobil bekas di sini warga yang datang dari Serang atau Cilegon hingga Rengasdengklok. Ini terlihat dari banyaknya kendaraan bernomor polisi Banten yang lalu lalang di Serba Oto.

Kompleks ini juga terbilang nyaman, selain mudah diakses, area parkir yang cukup luas membuat pengunjung dengan mudah memarkirkan kendaraannya.

Endang Suryadi, pemilik showroom Diva Mobil bilang, lokasi yang strategis dan mudah dijangkau membuat banyak pembeli datang ke Serba Oto. "Lokasi kami tidak jauh dari pintu masuk dan keluar tol," kata Endang.

Selain itu, pria berusia 54 tahun itu bilang, Serba Oto juga dekat dengan kawasan perumahan elite Lippo Karawaci. "Lokasi ini memang potensial untuk bisnis jual beli mobil bekas," terang Endang yang sudah membuka showroom sejak tahun 2007.

Selain Endang, Yosa Syarief juga mengadu untung dengan berjualan mobil bekas di Serba Oto. Pekan lalu, ia memutuskan membuka showroom mobil bekas dengan nama Aura Mobilindo. Ia membuka showroom di kompleks itu karena tertarik melihat potensi calon pembeli yang makin hari kian ramai. "Prospek yang bagus ini membuat saya berani ikut berdagang beli mobil bekas," terang pria berusia 32 tahun itu.

Menurut Yosa, keberadaan 60 showroom di lokasi itu merupakan bukti bisnis jual mobil bekas sangat menguntungkan. "Banyaknya pedagang jadi bukti pasar mobil di lokasi ini memang menjanjikan masa depan," terang Yosa.

Sementara itu, Ruslan Lukmanto, salah satu pengunjung asal Tangerang mengaku sengaja datang ke lokasi penjualan mobil ini untuk mencari mobil idamannya. Ia bilang datang ke kompleks ini atas arahan seorang temannya. "Saya ke sini atas rekomendasi teman, kata dia. Di sini banyak pilihan mobil," ungkap Ruslan.

Senin, 09 Januari 2012 | 14:46  oleh Fahriyadi
SENTRA MOBIL BEKAS KARAWACI, TANGERANG
Sentra mobil bekas Karawaci: Lebih gampang jualan mobil Jepang (2)
Agar bisa menjaring konsumen, pemilik showroom mobil bekas di kompleks Serba Oto Palem Semi, Karawaci, Tangerang, banyak memajang mobil bekas yang ramai diburu konsumen. Pemilik showroom sengaja menghindari menjual mobil bekas yang memiliki konsumen terbatas.

Seperti yang dilakukan Firmansyah, pemilik showroom FR Auto Mobilindo. Ia mengaku lebih banyak menjual mobil berpenumpang jenis multipurpose vehicle (MPV) di showroom-nya. "Mobil berpenumpang inilah yang banyak peminatnya," kata Firmansyah.

Namun, tidak seluruh mobil jenis MPV laris terjual di kompleks Serba Oto ini. Firmansyah bilang, mobil jenis MPV yang laris kebanyakan mobil MPV pabrikan dari Jepang. "Terutama mobil MPV yang harganya di bawah Rp 150 juta," ungkap Firmansyah.

Menurut Firmansyah, harga MPV dari Jepang lebih murah ketimbang MPV dari Eropa atau Amerika Serikat (AS). Selain itu, mobil MPV Jepang juga sudah teruji keunggulannya. "Dalam sebulan saya bisa menjual dua unit," kata Firmansyah.

Dengan menjual dua unit mobil bekas, Firmansyah mendulang omzet antara Rp 150 juta sampai dengan Rp 200 juta per bulan. Setiap mobil itu dijual pada kisaran harga Rp 75 juta sampai dengan Rp 150 juta per unit. "Laba bisnis jual beli mobil ini kurang dari 10%," ujar Firmansyah.

Selain menjual mobil bekas, Firmansyah juga membeli mobil bekas dari pengunjung. Firmansyah tidak mematok jenis mobil tertentu yang menjadi incarannya. "Yang penting harga mobil cocok, selanjutnya bisa bertransaksi," terang Firmansyah.

Populernya mobil bekas pabrikan Jepang di Serba Oto diakui pemilik showroom lainnya. Endang Suryadi, pemilik showroom Diva Mobil, misalnya, menyatakan bahwa mobil Jepang masih menjadi favorit dagangannya. Selain harga jualnya lebih kompetitif ketimbang mobil Eropa atau AS, mobil Jepang tetap menjadi favorit pembeli. "Padahal, berbicara kualitas, mobil Eropa dan AS juga bagus," kata Endang.

Endang menjelaskan, mobil yang paling laris di showroom miliknya adalah mobil jenis MPV pabrikan Jepang yang dijualnya mulai Rp 60 juta sampai Rp 300 juta. Merek yang paling diburu adalah Toyota Avanza dan Innova, Daihatsu Xenia, serta beberapa merek mobil Jepang lainnya.

Dari sisi tahun produksi, mobil yang banyak dicari adalah mobil yang diproduksi tahun 2000-an. Selain MPV, mobil sedan juga banyak dicari konsumen yang datang ke sentra mobil ini.

Walaupun mobil pabrikan Jepang paling laris, sebagian pemilik showroom di kawasan ini, termasuk Endang, masih tetap menjual mobil Eropa dan mobil dari AS. Akan tetapi dari sisi penjualan, mobil Jepang paling dominan. "Mobil Jepang cepat terjualnya, sementara mobil non-Jepang butuh waktu lama agar bisa terjual," kata Endang.

Sejak membuka showroom mobil tahun 2007, Endang kini bisa menjual rata-rata 10 unit mobil bekas per bulan. Dari penjualan itu, Endang membawa pulang omzet Rp 1 miliar per bulan.

Selasa, 10 Januari 2012 | 13:53  oleh Fahriyadi
SENTRA MOBIL BEKAS KARAWACI, TANGERANG
Sentra mobil bekas Karawaci: Kepercayaan adalah kunci jual beli mobil (3)

Terdapat 60 showroom mobil bekas di kompleks Serba Oto Palem Semi, Karawaci, Tangerang. Mereka ini tentu bersaing ketat untuk mendapatkan pelanggan. Namun begitu, persaingan di antara mereka masih terbilang sehat.

Seperti yang dilakukan oleh Firmansyah, pemilik FR Auto Mobilindo. Ia mengaku tidak tertarik mencari pelanggan dengan cara membanting harga jual. Namun Firmansyah menggaet pelanggan dengan cara memberikan pelayanan yang terbaik.

Bentuk pelayanan Firmansyah itu berupa pemberian informasi, sejarah mobil maupun kondisi mobil kepada pelanggannya. Ia bilang, informasi menyeluruh mengenai kondisi mobil sangat penting bagi pelanggan. "Dengan layanan inilah kami punya pelanggan yang setia," terang Firman, panggilan akrab Firmansyah.

Selain meningkatkan pelayanan, Firmansyah juga menjaring pelanggan dengan membuat iklan di media massa. Tetapi ada juga pedagang lain yang memasarkan mobil bekas dengan cara membagikan brosur informasi mobil bekas di tempat-tempat keramaian.

Firmansyah menyimpulkan, sukses berjualan mobil bekas bergantung kepada tiga aspek. Pertama, kekuatan modal; kedua, relasi; ketiga, pengalaman. "Dari ketiga aspek ini, kekuatan modal itu aspek utama," ujar dia.

Dengan modal besar, pengusaha bisa memajang lebih banyak pilihan mobil di showroom miliknya. "Dengan modal besar, pengusahanya bisa meningkatkan promosi seperti iklan," katanya.

Namun Acai, pemilik MC Motor menampik pendapat Firmansyah tersebut. Ia bilang, modal besar bukan hal utama untuk sukses di bisnis mobil bekas. Menurutnya, rahasia sukses berbisnis mobil bekas terletak pada pelayanan. "Kejelasan kondisi fisik mobil harus jadi prioritas agar pelanggan puas dan percaya," ungkapnya.

Pria yang juga punya showroom mobil bekas di Kemayoran, Jakarta Pusat, itu menghindari usaha memperdayai atau membohongi pelanggan. Jika hal itu terjadi, bisa berisiko bagi keberlanjutan usaha. "Informasi tentang kondisi mobil harus disampaikan secara jujur," ujarnya.

Jika pelanggan puas akan menimbulkan citra positif di mata pelanggan. Citra positif itulah yang membuat pelanggan kembali belanja atau merekomendasikan orang lain untuk belanja.

Acai menilai, usaha jual beli mobil bekas harus dikelola dengan rapi, agar informasi tentang mobil bisa tersimpan dan bisa dijelaskan kepada pelanggan. "Ini fakta yang sudah saya pelajari sejak berjualan mobil enam tahun lalu," kata Acai.

Dia bilang, banyak pedagang mobil bekas gulung tikar karena tidak memiliki pijakan layanan yang menguntungkan konsumen. "Jual mobil bekas gampang-gampang susah, jika serius dan tidak main curang maka ia pasti berhasil," terangnya.

Walaupun sesama pedagang di Serba Oto bersaing, mereka tetap memiliki solidaritas. Jika ada pelanggan mencari mobil jenis tertentu yang tidak mereka miliki, pedagang memberi rekomendasi untuk belanja kepada pedagang lain.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1325741931/86845/Sentra-mobil-bekas-Karawaci-Berburu-Mobil-Bekas-di-Pinggiran-Jakarta-1-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1326095218/87096/Sentra-mobil-bekas-Karawaci-Lebih-gampang-jualan-mobil-Jepang-2-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/87218/Sentra-mobil-bekas-Karawaci-Kepercayaan-adalah-kunci-jual-beli-mobil-3-

Rabu, 09 Januari 2013

SENTRA MEBEL KALIMALANG, JAKARTA TIMUR

Peluang Usaha

SENTRA USAHA 
 
Kamis, 05 Januari 2012 | 12:24  oleh Ragil Nugroho
SENTRA MEBEL KALIMALANG, JAKARTA TIMUR
Sentra mebel Kalimalang: Pedagang mulai beralih ke mebel rotan (1)
Bagi warga Jakarta, kawasan Kalimalang, Jakarta Timur memang sohor dengan pusat kemacetan. Namun, mereka tetap kerap menyambanginya lantaran di sana juga menjadi sentra mebel dengan harga yang murah.

Pusat mebel itu tepat berada di pinggir Jalan Kalimalang Raya, akses menuju kota Bekasi. Jika Anda melakukan perjalanan dari arah Jakarta menuju Bekasi, dengan mudah Anda bisa menemukan lokasi ini.

Di sana, terdapat sekitar 15-an pedagang sekaligus sebagai perajin mebel yang menjajakan barang dagangannya. Mereka berjualan secara berkelompok. Namun, beberapa di antara mereka berdagang di lokasi terpisah, tak jauh dari kali.

Produk mebel yang mereka jual antara lain: meja, kursi, lemari, kusen, meja makan, tempat tidur, ranjang tidur bayi, hingga pigura. Mebel tersebut terbuat dari beraneka bahan baku, seperti: kayu jati belanda, meranti, kamper serta rotan.

Didi Djunaidi, salah satu perajin dan pemilik toko mebel Persada Karya bilang, pusat penjualan mebel Kalimalang sudah ada sejak 1980-an. Masa kejayaan bisnis mebel di lokasi ini terjadi setelah krisis ekonomi 1998 melanda Indonesia. "Setelah krisis ekonomi, pembeli banyak berdatangan kemari," katanya.

Kejayaan itu memudar memasuki tahun 2005, seiring dengan membaiknya ekonomi. Saat itu, mereka bertahan dengan menjual mebel berbahan kayu jati belanda, bekas sisa pelindung peti kemas. "Kami bertahan dengan menjual kayu jati belanda yang berharga murah," kata Didi.

Namun sejak dua tahun belakangan, peminat mebel dari kayu jati belanda juga mulai surut. Kondisi itu diperparah dengan naiknya harga bahan baku kayu jati belanda.

Kondisi tersebut berakibat pada penurunan omzet pedagang. Jika dalam sebulan pedagang mampu mengantongi omzet Rp 70 juta, kini omzet pedagang tinggal Rp 20 juta saja. Bahkan ada pedagang yang cuma mampu mengantongi omzet belasan juta saja. "Omzet paling parah akhir 2010," jelas Didi.

Namun, secercah harapan kini kini mulai tersembul. Banyak pembeli yang kini mulai melirik mebel rotan untuk memenuhi rumahnya.

Didi bilang, penjualan mebel rotan berlahan kembali naik naik setelah pemerintah mengeluarkan himbauan untuk memakai mebel rotan. "Untung, pemerintah mau mempromosikan mebel rotan ini," terang Didi. Jika tidak, Didi yakin usahanya akan terus menyusut.

Kondisi yang sama juga dirasakan oleh Nurhayadi, perajin mebel dan juga pemilik toko Multiprima. Sejak dua tahun belakangan, omzetnya turun dari puluhan juta rupiah menjadi belasan juta rupiah saja per bulan. "Sekarang rata-rata omzet saya Rp 17 juta per bulan," terang Nurhayati.

Sama dengan Didi, belakangan Nurhayadi menopang bisnisnya dengan mebel kayu jati belanda. Kini, ia juga tengah berusaha beralih ke mebel rotan yang mulai banyak dicari pembeli. "Dari sisi laba, mebel rotan jauh lebih mengutungkan dari pada mebel kayu jati belanda," katanya.

Agar memiliki banyak ragam produk, Nurhayadi juga aktif memesan rotan dari para pemasok rotan di wilayah Pantai Utara Jawa (Pantura) terutama dari Cirebon.  

Senin, 09 Januari 2012 | 14:05  oleh Ragil Nugroho
SENTRA MEBEL KALIMALANG, JAKARTA TIMUR
Sentra mebel Kalimalang: Kebanjiran order menjelang tahun baru (2)

Usia sentra mebel Kalimalang memang sudah lebih tiga dekade. Jumlah pedagang pun terus bertambah, bahkan sudah berganti. Demikian juga dengan mebel. Kalau dulu kebanyakan dari kayu jati, kini banyak pedagang yang berjualan mebel rotan.

Namun, masih ada satu ciri khas dari sentra mebel Kalimalang yang tidak berubah, yakni harga mebel yang murah. Menurut Budi Dahlan, seorang konsumen di sentra mebel itu, harga mebel di Kalimalang ini bisa tempat itu bisa 40% lebih murah dibandingkan tempat lainnya, semisal di Kramat Jati. "Harga murah memang menjadi ciri khas sentra Kalimalang," ujar pria yang tinggal di Pondok Cabe ini.

Nurhayadi, pemilik toko Multiprima, bilang, harga murah memang menjadi andalan pedagang dalam menjual mebel di sentra ini. "Karena dengan harga murah inilah kami bisa menjaring pelanggan," ujarnya.

Namun Nurhayadi mengakui, pedagang di sentra ini gagal menjaring pelanggan baru. Saat ini semakin banyak konsumen mebel yang beralih ke mebel besi atau aluminium.

Apalagi, saat ini tren untuk mebel lebih banyak yang model minimalis. Hal ini mengikuti perkembangan tipe rumah yang kecil dan sederhana. "Banyak penjual di sini yang masih menjajakan jenis mebel ukuran besar sehingga kurang laku," ujar Nurhayadi.

Namun menjelang tahun baru seperti sekarang ini, biasanya para pedagang di Kalimalang bisa menarik napas lebih lega. Pasalnya, permintaan akan berbagai jenis mebel akan meningkat drastis. "Selama Desember saja, saya sudah memperoleh Rp 35 juta," tutur Eko Pujianto, pemilik toko Karya Mebel.

Padahal, biasanya dalam sebulan ia hanya bisa meraup omzet paling banyak sebesar Rp 20 juta. Peningkatan permintaan dipicu keinginan konsumen yang masih "berprinsip" tahun baru perlu penampilan baru. "Banyak yang beranggapan, memasuki tahun baru harus memiliki perabotan baru," papar Eko. Apalagi, model-model mebel juga terus berubah seiring berjalannya waktu.

Rezeki yang sama juga dirasakan Nurhayadi. Hingga Natal lalu, ia sudah bisa mengumpulkan omzet sebesar Rp 25 juta. "Menjelang akhir tahun permintaan mebel memang sering meningkat drastis," ujarnya.

Bahkan pemesanan jenis mebel tertentu sudah datang dua bulan sebelumnya. "Kalau untuk pemesanan sesuai dengan keinginan pembeli memang biasanya sudah dipesan jauh-jauh hari," imbuh Nurhayadi.

Tentu saja, kenaikan permintaan mebel ini membuat pemilik toko perlu menambah tenaga kerja. Kalau pada hari biasa, mereka rata-rata mempekerjakan lima orang, di akhir tahun mereka butuh tenaga kerja hingga delapan orang.

Kebanyakan pekerja itu direkrut pedagang dari warga sekitar sentra. "Saya memang dari dulu mempekerjakan warga asli agar bisa mengurangi pengangguran," tukas Nurhayadi.

Uniknya, meski ramai, ada juga toko yang menawarkan promo akhir tahun. Seperti toko Persada Karya, milik Didi Djunaidi. Pria berusia 57 tahun ini mengaku tiap akhir tahun memberikan satu unit mebel gratis bila ada konsumen memesan satu set mebel ruang tamu atau ruang keluarga. "Selama ini, cukup ampuh menarik peminat pembeli," ujarnya.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1325741054/86843/Sentra-mebel-Kalimalang-Pedagang-mulai-beralih-ke-mebel-rotan-1-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/87089/Sentra-mebel-Kalimalang-Kebanjiran-order-menjelang-tahun-baru-2-