Tampilkan postingan dengan label mebel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mebel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Januari 2013

Farry, Sukses Berbisnis Mebel Jutaan Dollar


| Erlangga Djumena | Kamis, 12 Januari 2012 | 10:54 WIB

KONTAN/DOK PRIBADI Farry Tandean
KOMPAS.com - Jika bukan karena orang tuanya, Farry Tandean tidak mungkin bekerja sebagai pengusaha mebel dan interior. Selain membuat mebel dengan desain inovatif, ia juga berbisnis ubin dan panel dekoratif berbahan limbah batok kelapa.

Di saat bisnis mebel ekspor melesu, sebagian orang bakal menganggap industri ini sedang tiarap. Padahal, jangan salah, sebagian kecil eksportir tetap bertahan. Salah satunya adalah Farry Tandean. Pemilik PT Jati Vision Raya (Java) dan Cocomosaic Indonesia ini tetap bertahan dan mengekspor produk mebel dengan desain inovatif ke pelbagai negara.

Sejak memulai bisnis mebel 16 tahun silam, Farry memang berorientasi mengekspor produk ke luar negeri. Ia merupakan salah satu dari sedikit produsen mebel asal Cirebon yang sejak puluhan tahun silam aktif menjaring pembeli (buyer) luar negeri lewat pelbagai pameran. Saat ini banyak pembelinya berasal beberapa negara di Eropa, Asia, dan Amerika Serikat. Ia juga punya perwakilan penjualan di puluhan negara.

Tiap tahun, pendapatan Farry dari ekspor produk mebel bisa mencapai 5 juta–7,5 juta dollar AS. Salah satu keunggulan bisnis Java adalah memberi nilai lebih pada produk mebel dengan kualitas dan inovasi desain. Baru-baru ini, produk Cocomosaic berhasil masuk dalam lima besar Gaia Award 2011 di Dubai. Penghargaan ini diberikan bagi produk inovatif di bidang konstruksi dan bangunan yang ramah lingkungan.

Lahir dari keluarga pedagang kelontong di Cirebon, sejak kecil 45 tahun silam, orang tua Farry biasa menerapkan disiplin dalam penggunaan keuangan. Impian orang tuanya adalah anak-anaknya sekolah di luar negeri. “Saya rela tidak dibelikan mobil demi bisa bersekolah di Amerika,” ungkap anak keenam dari tujuh bersaudara ini.

Alhasil, setelah menyelesaikan SD dan SMP di Cirebon, saat kelas III SMA, Farry dikirim orang tuanya ke Kanada untuk persiapan kuliah di Amerika Serikat. Pada tahun 1990, Farry menamatkan pendidikan di University of Minessota, dengan menyabet dua gelar master di bidang electrical engineering dan computer science. Semuanya diselesaikan dengan predikat magna cum laude.

Setelah kuliah, Farry ikut program management trainee di General Electric sebagai accelerated candidate untuk fast track Information Systems Management Program (ISMP). Meski bergaji 35.000 dollar AS per tahun, ia merasa ada yang kurang. “Mungkin karena orang tua saya pedagang, ada yang kurang jika saya hanya menjadi karyawan,” katanya.

Pada tahun 1993, Farry memutuskan pulang ke Cirebon atas permintaan orang tuanya. Sebagai anak lelaki pertama di keluarga, ia merasa punya tanggung jawab besar merawat orang tuanya yang sudah tua. “Kakak-kakak perempuan saya ikut suami ke luar negeri, sementara saya dan adik lelaki saya di Cirebon,” katanya.

Usaha pertama Farry adalah meneruskan toko kelontong orang tuanya. Tiap bulan, ia hanya mendapat uang jajan sebesar Rp 500.000. Ia juga ikut membantu mengelola pemasaran bisnis adiknya, Wika Tandean. “Adik saya menjual rotan mentah ke perusahaan mebel di Cirebon,” katanya.

Masuk ke bagian pemasaran membuat Farry mengenal banyak buyer rotan dan mebel dari luar negeri. Suatu saat, ia mendapat tawaran dari seorang buyer dari Jepang untuk memasok keperluan mebel ke Jepang. Alhasil, dengan modal Rp 300 juta dari orang tua, pada tahun 1993, ia mendirikan perusahaan patungan yang khusus menggarap pasar mebel untuk diekspor ke Jepang.

Kurang lebih satu setengah tahun berkongsi, Farry memilih mandiri dengan membuat perusahaan sejenis untuk menggarap pasar di luar Jepang. Tahun 1995, ia mendirikan Java. Saat pengusaha rotan dan mebel masih bergantung pada buyer yang datang, ia sudah aktif menawarkan produk lewat pameran. “Sampai-sampai kegiatan produksi dan kualitas kami kadang terbengkalai,” katanya.
Berkah krismon
Lantaran Farry menerapkan standar kualitas produk Eropa dan Amerika, para buyer langsung tertarik menjadi pelanggan. Pada tahun 1998, bisnisnya semakin besar. Saat terjadi devaluasi parah, sebagai eksportir ia malah pesta pora. “Saya bisa mendapatkan untung Rp 100 juta dengan hanya mengirimkan 1.000 keranjang kecil seharga 12 dollar AS per unit,” ujarnya. Saat itu, biaya produksinya hanya Rp 15.000, tapi kurs Rp 10.000–Rp 12.000 per dollar AS.

Tahun itu juga, Farry memindahkan usaha di lokasi seluas 50.000 meter persegi. Kini, di atas lokasi itu sudah berdiri tiga pabrik dan tiga ruang pamer. Perusahaan ini punya tiga divisi: Java, Bali luz (lampu dekoratif), dan Valentti Lifestyle.

Untuk memperluas pasar, tahun 2010, Farry mendirikan Cocomosaic yang mengolah limbah batok kelapa menjadi material dekoratif nan eksotis untuk keperluan arsitektur dan desain interior. Pasarnya ada di puluhan negara.

Farry mendapat pasokan batok kelapa dari masyarakat. Ia berharap, dalam tiga tahun, Cocomosaic bisa menambah nilai ekspor Java mencapai lebih dari Rp 30 miliar. (Dian Pitaloka Saraswat/Kontan)

Sumber:
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/01/12/10545516/Farry..Sukses.Berbisnis.Mebel.Jutaan.Dollar
Posted on 01.42 | Categories:

Rabu, 09 Januari 2013

SENTRA MEBEL KALIMALANG, JAKARTA TIMUR

Peluang Usaha

SENTRA USAHA 
 
Kamis, 05 Januari 2012 | 12:24  oleh Ragil Nugroho
SENTRA MEBEL KALIMALANG, JAKARTA TIMUR
Sentra mebel Kalimalang: Pedagang mulai beralih ke mebel rotan (1)
Bagi warga Jakarta, kawasan Kalimalang, Jakarta Timur memang sohor dengan pusat kemacetan. Namun, mereka tetap kerap menyambanginya lantaran di sana juga menjadi sentra mebel dengan harga yang murah.

Pusat mebel itu tepat berada di pinggir Jalan Kalimalang Raya, akses menuju kota Bekasi. Jika Anda melakukan perjalanan dari arah Jakarta menuju Bekasi, dengan mudah Anda bisa menemukan lokasi ini.

Di sana, terdapat sekitar 15-an pedagang sekaligus sebagai perajin mebel yang menjajakan barang dagangannya. Mereka berjualan secara berkelompok. Namun, beberapa di antara mereka berdagang di lokasi terpisah, tak jauh dari kali.

Produk mebel yang mereka jual antara lain: meja, kursi, lemari, kusen, meja makan, tempat tidur, ranjang tidur bayi, hingga pigura. Mebel tersebut terbuat dari beraneka bahan baku, seperti: kayu jati belanda, meranti, kamper serta rotan.

Didi Djunaidi, salah satu perajin dan pemilik toko mebel Persada Karya bilang, pusat penjualan mebel Kalimalang sudah ada sejak 1980-an. Masa kejayaan bisnis mebel di lokasi ini terjadi setelah krisis ekonomi 1998 melanda Indonesia. "Setelah krisis ekonomi, pembeli banyak berdatangan kemari," katanya.

Kejayaan itu memudar memasuki tahun 2005, seiring dengan membaiknya ekonomi. Saat itu, mereka bertahan dengan menjual mebel berbahan kayu jati belanda, bekas sisa pelindung peti kemas. "Kami bertahan dengan menjual kayu jati belanda yang berharga murah," kata Didi.

Namun sejak dua tahun belakangan, peminat mebel dari kayu jati belanda juga mulai surut. Kondisi itu diperparah dengan naiknya harga bahan baku kayu jati belanda.

Kondisi tersebut berakibat pada penurunan omzet pedagang. Jika dalam sebulan pedagang mampu mengantongi omzet Rp 70 juta, kini omzet pedagang tinggal Rp 20 juta saja. Bahkan ada pedagang yang cuma mampu mengantongi omzet belasan juta saja. "Omzet paling parah akhir 2010," jelas Didi.

Namun, secercah harapan kini kini mulai tersembul. Banyak pembeli yang kini mulai melirik mebel rotan untuk memenuhi rumahnya.

Didi bilang, penjualan mebel rotan berlahan kembali naik naik setelah pemerintah mengeluarkan himbauan untuk memakai mebel rotan. "Untung, pemerintah mau mempromosikan mebel rotan ini," terang Didi. Jika tidak, Didi yakin usahanya akan terus menyusut.

Kondisi yang sama juga dirasakan oleh Nurhayadi, perajin mebel dan juga pemilik toko Multiprima. Sejak dua tahun belakangan, omzetnya turun dari puluhan juta rupiah menjadi belasan juta rupiah saja per bulan. "Sekarang rata-rata omzet saya Rp 17 juta per bulan," terang Nurhayati.

Sama dengan Didi, belakangan Nurhayadi menopang bisnisnya dengan mebel kayu jati belanda. Kini, ia juga tengah berusaha beralih ke mebel rotan yang mulai banyak dicari pembeli. "Dari sisi laba, mebel rotan jauh lebih mengutungkan dari pada mebel kayu jati belanda," katanya.

Agar memiliki banyak ragam produk, Nurhayadi juga aktif memesan rotan dari para pemasok rotan di wilayah Pantai Utara Jawa (Pantura) terutama dari Cirebon.  

Senin, 09 Januari 2012 | 14:05  oleh Ragil Nugroho
SENTRA MEBEL KALIMALANG, JAKARTA TIMUR
Sentra mebel Kalimalang: Kebanjiran order menjelang tahun baru (2)

Usia sentra mebel Kalimalang memang sudah lebih tiga dekade. Jumlah pedagang pun terus bertambah, bahkan sudah berganti. Demikian juga dengan mebel. Kalau dulu kebanyakan dari kayu jati, kini banyak pedagang yang berjualan mebel rotan.

Namun, masih ada satu ciri khas dari sentra mebel Kalimalang yang tidak berubah, yakni harga mebel yang murah. Menurut Budi Dahlan, seorang konsumen di sentra mebel itu, harga mebel di Kalimalang ini bisa tempat itu bisa 40% lebih murah dibandingkan tempat lainnya, semisal di Kramat Jati. "Harga murah memang menjadi ciri khas sentra Kalimalang," ujar pria yang tinggal di Pondok Cabe ini.

Nurhayadi, pemilik toko Multiprima, bilang, harga murah memang menjadi andalan pedagang dalam menjual mebel di sentra ini. "Karena dengan harga murah inilah kami bisa menjaring pelanggan," ujarnya.

Namun Nurhayadi mengakui, pedagang di sentra ini gagal menjaring pelanggan baru. Saat ini semakin banyak konsumen mebel yang beralih ke mebel besi atau aluminium.

Apalagi, saat ini tren untuk mebel lebih banyak yang model minimalis. Hal ini mengikuti perkembangan tipe rumah yang kecil dan sederhana. "Banyak penjual di sini yang masih menjajakan jenis mebel ukuran besar sehingga kurang laku," ujar Nurhayadi.

Namun menjelang tahun baru seperti sekarang ini, biasanya para pedagang di Kalimalang bisa menarik napas lebih lega. Pasalnya, permintaan akan berbagai jenis mebel akan meningkat drastis. "Selama Desember saja, saya sudah memperoleh Rp 35 juta," tutur Eko Pujianto, pemilik toko Karya Mebel.

Padahal, biasanya dalam sebulan ia hanya bisa meraup omzet paling banyak sebesar Rp 20 juta. Peningkatan permintaan dipicu keinginan konsumen yang masih "berprinsip" tahun baru perlu penampilan baru. "Banyak yang beranggapan, memasuki tahun baru harus memiliki perabotan baru," papar Eko. Apalagi, model-model mebel juga terus berubah seiring berjalannya waktu.

Rezeki yang sama juga dirasakan Nurhayadi. Hingga Natal lalu, ia sudah bisa mengumpulkan omzet sebesar Rp 25 juta. "Menjelang akhir tahun permintaan mebel memang sering meningkat drastis," ujarnya.

Bahkan pemesanan jenis mebel tertentu sudah datang dua bulan sebelumnya. "Kalau untuk pemesanan sesuai dengan keinginan pembeli memang biasanya sudah dipesan jauh-jauh hari," imbuh Nurhayadi.

Tentu saja, kenaikan permintaan mebel ini membuat pemilik toko perlu menambah tenaga kerja. Kalau pada hari biasa, mereka rata-rata mempekerjakan lima orang, di akhir tahun mereka butuh tenaga kerja hingga delapan orang.

Kebanyakan pekerja itu direkrut pedagang dari warga sekitar sentra. "Saya memang dari dulu mempekerjakan warga asli agar bisa mengurangi pengangguran," tukas Nurhayadi.

Uniknya, meski ramai, ada juga toko yang menawarkan promo akhir tahun. Seperti toko Persada Karya, milik Didi Djunaidi. Pria berusia 57 tahun ini mengaku tiap akhir tahun memberikan satu unit mebel gratis bila ada konsumen memesan satu set mebel ruang tamu atau ruang keluarga. "Selama ini, cukup ampuh menarik peminat pembeli," ujarnya.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1325741054/86843/Sentra-mebel-Kalimalang-Pedagang-mulai-beralih-ke-mebel-rotan-1-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/87089/Sentra-mebel-Kalimalang-Kebanjiran-order-menjelang-tahun-baru-2-