Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Januari 2013

INSPIRASI DEDEN SUPRIYADI

Peluang Usaha
 
Senin, 16 Januari 2012 | 14:27  oleh Muhammad Yazid
INSPIRASI DEDEN SUPRIYADI
Deden pengibar batik tasikmalaya sampai ke luar kota (1)
Sebagai warisan budaya, motif batik di Indonesia sangat kaya ragam. Hampir setiap daerah memiliki corak yang khas. Tak terkecuali Tasikmalaya yang memiliki batik khasnya sendiri. Sayangnya, batik tasikmalaya kalah pamor dibandingkan dengan batik asal Pekalongan dan Solo. Padahal, keelokan batik tasikmalaya tak bisa dianggap sebelah mata.

Menyadari potensi tersebut, Deden Supriyadi terobsesi untuk memperkenalkan batik khas Tasikmalaya ke seluruh penjuru Nusantara. Upaya itu tidak sia-sia. Di bawah bendera usaha Deden Batik, ia sukses memperkenalkan batik khas Tasikmalaya hingga ke Jakarta, Surabaya, dan Samarinda.

Di daerahnya asalnya sendiri, merek Deden Batik termasuk legendaris. Keterampilan Deden membuat batik diwarisi dari kedua orang tua. "Sejak tahun 1945, orang tua saya merintis usaha pembuatan khas Tasikmalaya dengan merek Asep Batik," kata Deden, kemarin.

Namun, Deden mulai terlibat langsung membantu usaha batik orang tuanya itu sejak lulus sekolah menengah atas pada 1987. Saat itu, ia bertugas sebagai tenaga pemasar.

Sejak kedua orang tuanya meninggal di awal tahun 2.000, ia mulai memegang kendali Asep Batik. Merek dagang pun ia ganti menjadi Deden Batik. Berkat pengalamannya memasarkan produk batik, ia sukses mengembangkan pasar hingga ke luar kota.

Selain mengelola dua gerai toko, kini Deden juga memiliki pabrik batik di Tasikmalaya. Pabrik tersebut tidak menggunakan mesin dan beroperasi secara manual.

Terdapat sekitar 50 orang yang bekerja di pabrik tersebut. Selain batik cap, Deden juga memproduksi batik tulis. Dalam sebulan, ia memproduksi 12.000 potong batik cap, dan dua kodi atau 40 lembar kain batik tulis.

Harga kedua batik tersebut berbeda. Untuk batik cap dibanderol Rp 45.000 per potong. Adapun harga per kodi Rp 900.000. Harga batik tulis jauh lebih mahal, yakni Rp 500.000 per lembar. "Kami juga menawarkan jasa jahit, dengan tarif sekitar Rp 45.000," kata Deden.

Dalam sebulan, rata-rata penjualan mencapai 10.000 potong batik. Selain untuk memenuhi pasar di Jawa Barat, batik-batik tersebut dipasarkan ke Samarinda, Jakarta, dan Surabaya.

Dengan penjualan sebanyak itu, omzet yang ia peroleh berkisar antara Rp 500 juta hingga Rp 600 juta per bulan. "Laba bersih saya sekitar 40% dari omzet," ujar Deden.

Kini, Deden sudah tergolong pemain batik besar di Tasikmalaya. Hampir tiap hari, toko batiknya ramai dikunjungi pembeli. Selain pembeli lokal, banyak juga pembeli dari daerah lain.

Berkat toko tersebut, pemasaran batiknya terus berjalan. "Setiap produsen batik seharusnya memiliki toko agar tidak putus pemasarannya jika permintaan luar kota sedang sepi," tutur Deden.

Batik buatan Deden digemari karena warna-warnanya mencolok seperti merah, biru, dan hijau merupakan warna khas dari batik tasikmalaya. Menurut Deden, ketiga warna cerah tersebut sejak lama menjadi ciri khas batik tasikmalaya. Saat ini, ia sudah membuat sekitar 10.000 motif batik yang beredar di pasar. 
 
Selasa, 17 Januari 2012 | 14:52  oleh Muhammad Yazid
INSPIRASI DEDEN SUPRIYADI
Deden merintis usaha berbekal dua peralatan batik sederhana (2)
Deden Supriyadi mulai mengenal kerajinan batik dari orang tuanya sejak kecil. Di bawah bendera usaha Asep Batik, orang tua Deden membuat aneka motif batik khas Tasikmalaya. Namun, Deden baru bersentuhan langsung dengan batik pertama kali sejak lulus sekolah menengah atas (SMA) pada 1987.

Saat itu, Deden diminta membantu memasarkan produksi batik. Kebetulan, saat itu orang tuanya sudah memiliki toko batik di Garut, Jawa Barat. "Nah, saya diminta untuk mengurus toko itu," kata Deden.

Selama 13 tahun ia mengelola toko tersebut. Ketika bapaknya meninggal di tahun 2.000, Deden terpaksa kembali ke Tasik untuk mengurus usaha pembuatan batik yang telah dirintis sejak tahun 1945.

Toko batik di Garut dijual. "Hasilnya untuk dibagi-bagikan kepada saudara," kenang Deden.

Sepeninggalnya bapaknya, usaha pembuatan batik semakin meredup. Aset yang masih tersisa hanya dua buah peralatan batik sederhana, empat orang karyawan, serta uang tunai Rp 3 juta.

Dalam kondisi yang serba-terbatas itu, ia nekat membangun kembali usaha pembuatan batik tersebut, dengan bendera baru bernama Deden Batik. Untuk modal usaha, ia mendapat pinjaman dari seorang teman dengan sistem bagi hasil.

Dalam waktu singkat, Deden Batik sudah mampu berkibar. Usahanya berkembang cukup pesat. Pesanan besar, pertama kali datang dari Pemda Garut yang meminta dibuatkan seragam batik bagi pegawai negeri sipil (PNS) di daerah tersebut. Dari pesanan itu, Deden bahkan dapat membeli satu unit rumah.

Pada 2003, bapak dua anak ini mencoba mengembangkan usahanya dengan memproduksi busana muslim. Untuk bahan pakaian, ia dapatkan dari seorang produsen tekstil dengan sistem pembayaran di belakang (utang).

Saat itu, ia mendapat bahan pakaian dengan nilai barang mencapai Rp 300 juta. Deden lalu memasarkan busana muslim ke sejumlah pasar di daerah Tasikmalaya. Sekitar 100 pedagang pakaian bersedia bekerja sama dengannya untuk menjual produk tersebut. Kerja sama dengan pedagang itu memakai sistem kredit.

Berjalan dua tahun, usaha dalam bentuk kredit kepada pedagang berjalan lancar dan dapat menambah omzet Deden Batik hingga puluhan juta rupiah. Tapi, seiring berjalannya waktu, cicilan pembayaran dari para pedagang mulai tersendat. Pasalnya, mereka juga menawarkan sistem kredit kepada pembeli.

Karena kredit macet itu, ia juga tidak dapat membayar utang kepada produsen tekstil yang menjadi mitra kerjanya. "Utang saya lebih dari Rp 400 juta," katanya.

Terlilit utang ratusan juta, sempat membuat Deden kelimpungan. Sebab, pakaian yang sudah telanjur dipasarkan ke pedagang susah bisa ditarik kembali, padahal utang harus segera dilunasi.

Demi menutup utang, Deden akhirnya menjual rumahnya seharga Rp 160 juta. Sementara itu, sisa utang dibayarnya secara mencicil.

Uang yang diperoleh dari menjual rumah, tidak semuanya digunakan untuk membayar utang. Sebagian dipakai buat menambah modal usaha. "Kali ini saya hanya fokus ke batik, sepertinya saya memang cocok di situ," ujarnya.
 
Rabu, 18 Januari 2012 | 12:10  oleh Muhammad Yazid
INSPIRASI DEDEN SUPRIYADI
Meski sukses, Deden tidak berpuas diri dan akan terus ekspansi (3)
Setelah terjerat dalam lilitan utang, Deden Supriyadi memutuskan untuk meninggalkan usaha pembuatan busana muslim, dan kembali fokus menggeluti bisnis batik. Namun, tak mudah bagi Deden untuk bangkit kembali. Sebab, jeratan utang senilai hampir Rp 400 juta sempat membuat usaha batiknya terpuruk.

Tetapi, hal itu tidak membuatnya putus asa. Pantang menyerah dan terus berusaha memang menjadi moto hidup Deden. "Cobaan berat harus saya hadapi sekuat mungkin," katanya.

Berbekal uang hasil menjual rumah yang sebagian dia pakai untuk membayar utang, Deden kembali membenahi Deden Batik. Sisa uang penjualan rumah ia gunakan buat menyewa toko untuk memasarkan karya-karya batiknya.

Selain itu, ia juga mulai mengembangkan jaringan pemasaran melalui internet.Tetapi, Deden mengaku butuh waktu lama untuk meyakinkan rekan-rekan bisnis agar mau bekerja sama kembali. "Saat punya utang, saya dijauhi dan tidak dipercaya. Sekarang Alhamdulillah," ungkapnya.

Semua upaya yang ia lakukan memang tidak sia-sia. Deden Batik kini berjaya lagi dan semakin berkembang. Karya-karyanya telah menembus pasar di berbagai kota, seperti Jakarta, Surabaya, dan Samarinda.

Toko batiknya di Tasikmalaya juga ramai dikunjungi pembeli. Berkat toko itu, pemasaran batiknya terus berjalan. "Batik yang batal dikirim keluar kota masih bisa dipasarkan di toko sendiri," ujar Deden.

Jika tidak memiliki toko, biasanya para produsen akan melempar produknya ke penjual dengan harga yang murah. "Makanya, setiap produsen perlu punya toko sendiri," ucapnya.

Selain pembeli eceran, banyak juga pedagang batik dari daerah lain yang berkunjung ke toko Deden Batik. Umumnya, mereka mendapat infromasi Deden Batik lewat internet.

Pesanan dalam skala besar juga selalu datang. Pesanan besar pertama datang dari Pemerintah Kota Samarinda, Kalimantan Timur di awal 2009. Saat itu, Pemerintah Samarinda memesan 3.000 potong baju batik tulis.

Produk batik Deden diminati karena mirip dengan batik khas Kalimantan. "Saya dapat kabar, tahun ini, Pemerintah Samarinda akan pesan lagi," kata dia.

Selain dari Samarinda, dua pedagang asal Surabaya juga kepincut batik buatan Deden. Saban bulan, Deden mengirim minimal 300 potong jenis batik cap berukuran 2,35 x 1,7 meter ke Kota Pahlawan tersebut.Kerja sama itu sudah terjalin sejak awal 2011 lalu.

Sejak dua tahun lalu, ia juga mulai menjalin kerja sama dengan pedagang batik dari Jakarta. Saat ini, sepuluh pedagang dari ibu kota menjadi langganan Deden. "Setiap bulan, kami mengirim 8.000 potong bahan batik ke Jakarta," imbuhnya.

Di Tasikmalaya, Deden telah memiliki dua toko dan satu pabrik yang menampung 50 pekerja. Setiap bulan, ia memproduksi 12.000 potong batik cap dan 40 potong batik tulis. Pada pertengahan Januari ini, Deden akan membuka pabrik baru di Banjar, Jawa Barat yang dapat mempekerjakan 20 orang.
Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/deden-pengibar-batik-tasikmalaya-sampai-ke-luar-kota-1
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/deden-merintis-usaha-berbekal-dua-peralatan-batik-sederhana-2
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/meski-sukses-deden-tidak-berpuas-diri-dan-akan-terus-ekspansi-3

Minggu, 13 Januari 2013

INSPIRASI HAMZAH SULAIMAN

Peluang Usaha

 
Selasa, 10 Januari 2012 | 13:33  oleh Noverius Laoli
INSPIRASI HAMZAH SULAIMAN
Kisah Hamzah membesarkan Grup Mirota di Yogyakarta (1)
Membangun bisnis batik tidak cukup hanya dengan mengandalkan modal dan kerja keras. Tapi juga diperlukan strategi dan kreativitas dalam memasarkan produk batik tersebut. Itulah yang dilakukan Hamzah Sulaiman, seorang pengusaha sukses, pengelola kelompok usaha Mirota. Ini adalah jaringan ritel legendaris di Yogyakarta.

Peritel ini antara lain mengoperasikan, Mirota Batik, yang dikenal sebagai penyedia batik, kerajinan kayu, perak, tas laptop bermotif batik, dekorasi rumah, sepatu atau sandal, topi, tikar, asbak, minyak aroma terapi, dupa, hingga makanan ringan. Sebagai toko batik, suvenir dan kerajinan, Mirota Batik menjadi salah satu tempat favorit belanja wisatawan yang berlibur di Yogyakarta.

Kisah pria kelahiran Yogyakarta, 62 tahun silam, ini mengembangkan Mirota, bermula dari "terpaksa". Saat berumur 25 tahun, ayahnya, Hendro Sutikno, meninggal pada tahun 1975. Hendro adalah pendiri cikal bakal Mirota. mau tak mau, Hamzah harus mewarisi toko kelontong di Malioboro warisan orang tuanya.

Hamzah bahu-membahu dengan kakaknya, membangun toko kelontong itu hingga besar seperti sekarang. Salah satu upayanya adalah membuka cabang Mirota di Jalan Kaliurang, sekitar 16,5 kilometer (km) dari Kota Yogyakarta. Setelah itu, ekspansi Mirota tak terbendung.

Oh, iya, nama Mirota sendiri berasal dari nama toko roti milik ibunya. Saat itu, ibunya membuka toko roti bernama "Minuman dan Roti Tart" yang disingkat menjadi "Mirota".

Pusat Mirota hingga saat ini masih berada di Malioboro. Toko yang terdiri dari empat lantai ini selalu penuh sesak oleh pembeli. Toko ini mulai dirintis tahun 1977 dengan modal Rp 80 juta. Toko unik ini berdiri sejajar dengan toko-toko lainnya di jalan Malioboro.

Toh, Mirota mampu menarik minat banyak pembeli karena toko ini dikelola dengan cara unik. Misalnya mendesain toko dengan pernak-pernik budaya Jawa kuno. Kebetulan, sejak kecil Hamzah memang menyukai seni. "Sejak saya umur enam tahun, saya suka menari Jawa kuno," ujarnya.

Dengan memadukan kesenian Jawa, Hamzah mengaku tidak hanya menjual batik dan suvenir saja di tokonya. Dia juga menjual suasana dengan kekayaan tradisi yang ada di Yogyakarta.

Berbagai ornamen Jawa yang menghiasi interior toko di antaranya bunga-bunga khas Keraton Yogyakarta, pernak-pernik keraton, sesajen dan gamelan. Bagi Hamzah, tokonya harus tampil beda dari toko-toko lain yang ada di Yogyakarta dan Jakarta.

Upayanya itu tidak sia-sia. Terbukti, kehadiran berbagai ornamen Jawa itu mampu menyedot minat konsumen untuk mengunjungi toko tersebut.

Dengan mengunjungi Mirota, Hamzah ingin pembeli sadar bahwa mereka sedang berada di Yogyakarta. Selain memasukkan ornamen jawa, Hamzah juga memiliki kiat lain dalam mengelola tokonya agar bisa sukses. Salah satunya dengan memperhatikan kesejahteraan karyawan

Untuk itu, ia menerapkan sistem bagi hasil. Jika penjualan di toko meningkat, karyawan akan mendapatkan penghasilan yang besar. Jika penjualan turun, pendapatan karyawan juga akan turun. 
 
Rabu, 11 Januari 2012 | 14:20  oleh Noverius Laoli
INSPIRASI HAMZAH SULAIMAN
Berbekal kemampuan desain batik, Hamzah kini menjadi pengusaha (2)

Mirota Batik kini menjadi salah satu tempat belanja favorit bagi wisatawan yang berlibur di Yogyakarta. Toko empat lantai yang terletak di Jalan Malioboro itu menjajakan berbagai produk batik dan kerajinan khas Yogyakarta.

Mirota Batik memang bukan lagi sekadar toko batik, melainkan pusat barang seni. Setiap pengunjung Mirota langsung disambut alunan gending Jawa, sehingga kesan tradisi Yogyakarta begitu kental.

Tak heran, bila Mirota Batik kini memiliki pasar dan pelanggan sendiri. Semuanya dimulai ketika ayah Hamzah, Hendro Sutikno meninggal dunia di tahun 1975. Kala itu, Hamzah yang baru menginjak usia 25 tahun mewarisi warung kelontong ayahnya di Jalan Malioboro, Yogyakarta.

Di tangannya, warung kelontong tersebut disulap menjadi Mirota Batik. Kecintaan pada seni dan budaya Jawa yang mendorongnya membuka toko batik.

Kebetulan ia juga bisa mendesain batik. "Bakat desain batik, saya kembangkan secara autodidak," ujarnya.

Saat awal didirikan pada tahun 1978, Mirota Batik belum sebesar sekarang. Selain tempatnya kecil, pembelinya juga masih sepi. Apalagi, Malioboro saat itu masih sepi. Tapi Hamzah tak patah arang. Meski sepi pembeli, ia tetap memasarkan batik-batik hasil desainnya di Mirota.

Usahanya mulai berkembang saat ia menjalin kerja sama dengan pemilik Batik Danar Hadi. Selain mendapatkan pasokan batik dari Danar Hadi, Hamzah juga mendatangkan batik dari berbagai daerah.

Agar isi tokonya lebih bervariasi, ia pun mulai memasarkan barang-barang kerajinan khas Jawa. Untuk itu, ia suka membawa contoh barang ke perajin untuk dipasarkan di tokonya. Hubungannya dengan para perajin ini dimulai sekitar tahun 1980-an. Saat itu, tak jarang ia mencari perajin hingga ke pelosok daerah. Lambat laun, usahanya itu mulai membuahkan hasil sampai akhirnya dilirik orang.

Selain isi toko makin bervariasi, desain interior toko yang unik juga menjadi daya tarik Mirota Batik. Bisa dikatakan, Mirota kini menjadi semacam miniatur Yogyakarta. Bahkan ada yang berpendapat, bagi wisatawan yang tidak sempat menyusuri Malioboro, cukup berkunjung ke Mirota karena semua sudah terwakili dan tersedia lengkap di sini.

Setelah Mirota Batik di Malioboro makin berkembang, Hamzah pun melakukan ekspansi dengan membuka cabang baru di Jalan Kaliurang, Yogyakarta. Toko di Kaliurang juga berkembang dengan pesat.

Namun, di tengah pesatnya pertumbuhan bisnis yang dikelolanya, sebuah musibah datang menghampiri. Pada 2 Mei 2004, Mirota Batik di Mailoboro terbakar. Tidak ada satu pun yang tersisa pasca kebakaran tersebut. Semuanya ludes dilalap si jago merah.

Namun, Hamzah tidak patah arang. "Cobaan berat itu harus dihadapi dengan sabar dan tetap berjuang," ujarnya.

Setelah kejadian itu, Hamzah memutuskan membangun Mirota dari nol lagi. Tekadnya terbukti sukses. Mirota berjaya lagi bahkan berdiri menyerupai mal modern dengan ciri khas Yogyakarta. 
 
Kamis, 12 Januari 2012 | 13:08  oleh Noverius Laoli
INSPIRASI HAMZAH SULAIMAN
Setelah toko batik, Hamzah masuk bisnis restoran (3)
Jatuh bangun menjalankan usaha sudah dirasakan Hamzah Sulaiman. Pengalaman pahit yang pernah dialaminya ketika Mirota Batik di Malioboro terbakar. Peristiwa itu terjadi pada 2 Mei 2004.

Tidak ada satu pun yang tersisa pasca kebakaran tersebut. Semuanya ludes dilalap si jago merah. Tetapi, hal itu tidak membuatnya putus asa. Pantang menyerah dan terus berusaha memang menjadi moto hidupnya.

Untungnya, ia masih memiliki sisa tabungan untuk membangun kembali Mirota. Hanya dalam waktu setahun, Hamzah berhasil membangun kembali gedung Mirota Batik di Malioboro.

Bahkan, gedung baru tersebut tampak lebih megah dari bangunan lama. Terdiri dari empat lantai, Mirota Batik kini menyerupai mal.

Yang memakan waktu agak lama ketika ia harus mengisi dan mengembalikan detail toko. Konsepnya, ia ingin membangun tempat wisata belanja batik dan kerajinan yang nyaman. Tapi, semua kesulitan itu berhasil dilaluinya.

Mirota kali ini lebih mentereng dan lengkap. Jumlah pengunjung pun kian membeludak, terutama di akhir pekan. Setelah Mirota berkembang pesat, Hamzah memutuskan untuk mundur dan menyerahkan pengelolaan toko kepada orang kepercayaan. "Saya memilih pensiun," ujarnya.

Namun, naluri bisnis tetap saja memanggilnya. Di masa pensiun, ia justru mendirikan restoran bernama House of Raminten. Restoran berbentuk kafe ini berdiri pada 26 Desember 2008 di kompleks rumahnya, di Jl FM Noto No 7 Kotabaru, Yogyakarta.

Hamzah membangun House of Raminten dengan harapan, ia tidak hidup kesepian setelah pensiun. Dengan adanya restoran ini, Hamzah masih memiliki kegiatan untuk menyibukkan diri. Dia ingin agar di masa pensiun ini dapat melakukan hal-hal yang ringan dan disukainya.

Lokasi House of Raminten berada di pendopo, tempat Hamzah latihan menari. Dan, awalnya menu yang ditawarkan hanya mi instan dan sejenisnya

Nah, dari sekadar ingin memiliki kesibukan, kini House of Raminten justru berkembang pesat. Dengan jumlah karyawan mencapai 82 orang, House of Raminten ramai dikunjungi pembeli. Buka selama 24 jam, restoran ini menawarkan menu andalan nasi kucing dengan harga Rp 1.000 per porsi.

Selain itu, resto juga menyediakan juga nasi putih, oseng tempe, serundeng dan teri. Rata-rata harga makanan di House of Raminten sekitar Rp 10.000 dan termahal Rp 20.000 per porsi.

Lantaran sudah besar, pengelolaan restoran kini diserahkan kepada anak angkat yang menjadi kepercayaan Hamzah. Suasana restoran pun dibuat seperti Yogyakarta mini, ada kereta kencana dan dokar. Dengan suasana ini, jumlah pengunjung terdongkrak. Dalam semalam pemasukannya mencapai Rp 1,5 juta.

Karyawan restoran ini bukan berasal dari kalangan profesional. Sebab, yang menjadi pelayan kebanyakan adalah karyawan lama Hamzah di Mirota Batik. Tugas mereka melayani dan menyajikan makanan pesanan para pembeli.

Namun, karyawan tersebut saling berbagi pengalaman, termasuk dalam hal memasak. "Ada juga karyawan yang ahli memijat, namun juga pintar memasak," jelasnya. 
 
Jumat, 13 Januari 2012 | 15:15  oleh Noverius Laoli
INSPIRASI HAMZAH SULAIMAN
Hamzah memperlakukan karyawan seperti keluarga sendiri (4)
Perusahaan adalah milik karyawan, karyawan adalah bagian dari perusahaan. Demikianlah motto Hamzah Sulaiman dalam mengembangkan usahanya selama ini. Sejak awal merintis usaha Toko Mirota Batik, ia sangat memperhatikan kesejahteraan karyawan.
Baginya, karyawan merupakan pihak yang harus dirangkul dalam mengembangkan bisnis. "Sebagai pemimpin, saya harus bersama-sama karyawan membangun usaha ini," kata Hamzah.
Contohnya, ketika Mirota Batik di Malioboro terbakar pada 2004 silam. Tak lama setelah peristiwa itu, Hamzah langsung mengumpulkan karyawan Mirota yang saat itu berjumlah sekitar 100 orang.
Di hadapan para karyawan, Hamzah menegaskan bahwa tak ada satu pun karyawan yang dipecat. Padahal, saat itu, Mirota sudah ludes dilalap si jago merah, dengan nilai kerugian diperkirakan mencapai Rp 4 miliar.
Kepada karyawan ia menegaskan, kebakaran Mirota bukan saja kerugian bagi dirinya, melainkan karyawan juga. Ia pun mengajak karyawan bangkit bersama dan membangun Mirota kembali. "Bagi saya, karyawan merupakan aset yang paling berharga," ucapnya.
Metode ini terbukti sukses membangkitkan kembali kejayaan Mirota Batik. Setelah sukses, ia tidak lantas melupakan karyawan yang sudah bersusah payah ikut membantu mengembangkan usahanya.
Keuntungan Mirota tidak hanya dinikmati oleh Hamzah sebagai pemilik saja. Bahkan, karyawan juga diberi kesempatan memiliki saham. Karena memiliki saham, karyawan berhak mendapatkan dividen.
Sistem bagi hasil ditetapkan berdasarkan porsi kepemilikan saham karyawan di Mirota. Selain menerapkan sistem dividen, Hamzah juga membangun kompleks perumahan untuk didiami para karyawannya.
Hingga kini sudah ada empat kompleks perumahan karyawan yang dibangun Mirota. Pembangunan rumah ini bertujuan untuk membuat hidup karyawan lebih terjamin dan sejahtera. Dengan begitu, mereka bisa benar-benar fokus dengan pekerjaannya.
Hamzah juga memberikan gaji lumayan besar bagi karyawan. Di Mirota Batik Malioboro, saat ini terdapat 260 karyawan dengan gaji rata-rata Rp 5 juta hingga Rp 6 juta per bulan. Sementara jumlah karyawan di Mirota Batik Kaliurang sebanyak 15 orang, dengan gaji rata-rata Rp 4 juta hingga Rp 5 juta per bulan per orang.
Sementara jumlah karyawan di Restoran House of Raminten sebanyak 82 orang dengan gaji rata-rata Rp 3, 1 juta per orang. Gaji tersebut tergolong tinggi di Yogyakarta yang terkenal dengan standar biaya hidup yang rendah.
Dengan pendekatan semacam itu, seluruh karyawan betah bekerja dengan Hamzah. Lantaran banyak yang bertahan lama, hubungan Hamzah dengan karyawan sudah ibarat hubungan keluarga.
Kepada karyawan, ia juga tidak pernah marah. Kalaupun ada yang salah, ia tetap menegur dengan menggunakan bahasa Jawa yang halus. Semua karyawan juga diajari sopan santun, dengan memberi contoh kepada mereka tentang tata krama dan bicara lembut.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/kisah-hamzah-membesarkan-grup-mirota-di-yogyakarta-1
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/berbekal-kemampuan-desain-batik-hamzah-kini-menjadi-pengusaha-2
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/setelah-toko-batik-hamzah-masuk-bisnis-restoran-3
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/hamzah-memperlakukan-karyawan-seperti-keluarga-sendiri-4-

Jumat, 11 Januari 2013

Gaya Manajemen Berkeliling

Gaya Manajemen Berkeliling PDF Cetak E-mail
Rabu, 11 Januari 2012 12:24
IMG_049_-_CopyPemilik bisnis mana  yang tidak senang jika orang-orang yang bekerja dalam lingkungannya bekerja dalam suasana yang positif dan gembira. Begitu juga saya sebagai seorang entrepreneur.

Saya lebih suka menemui para pekerja yang melakukan tugasnya dengan muka berseri-seri, bukan cemberut dan bermuram durja. Dulu saat masih bekerja berkeliling ke proyek-proyek hingga sekarang, saya masih sempatkan untuk menyapa dan jika memungkinkan bersalaman dan mengobrol santai sejenak dengan orang-orang yang bekerja di tempat tersebut.

Menanyakan kabar dan sedikit memberikan perhatian bisa membuat orang-orang yang bekerja untuk kita merasa lebih diperhatikan dan karena merasa dihargai , mereka akan merasa lebih gembira.

Salah satu tujuan saya dalam membangun perusahaan memang bukan hanya semata-mata mencari materi tetapi juga hal lain yang bersifat immaterial, yakni kebahagiaan. Saya paling senang melihat pekerja yang menunjukkan kegembiraan saat bekerja karena itu akan membawa atmosfer positif ke sekitarnya. Tak hanya pada rekan-rekan kerja mereka, tetapi juga atasan bahkan klien yang dihadapi.

Untuk itu, saat saya memiliki waktu, saya ingin memastikan karyawan bekerja dengan gembira dengan menerapkan gaya manajemen berkeliling atau "management by wandering around". Gaya manajemen satu ini mungkin cukup melelahkan bagi mereka yang berusia lanjut seperti saya tetapi meski melelahkan, gaya manajemen ini sebenarnya menyenangkan.

Bayangkan, dalam sehari saya hanya menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di areal proyek. Tapi jangan salah! Jalan-jalan yang saya maksudkan di sini masih memiliki hubungan dengan bisnis secara langsung. Saya luangkan waktu khusus untuk melakukan hal ini.

Dari seluruh waktu kerja saya, saya sisihkan setidaknya 20% untuk meninjau proyek-proyek yang sedang berjalan. Saya menyadari bahwa dengan menerapkan gaya manajemen berkeliling ini, saya bisa memastikan adanya kontrol kualitas yang menyeluruh dalam proyek. Manajemen berkeliling juga saya anggap sebagai cara terbaik untuk memperoleh informasi yang objektif dan aktual secara langsung dan mempererat hubungan bisnis dengan karyawan.

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/ciputra-notes-inspirasi.html?start=6

Rabu, 09 Januari 2013

7 Senjata Pamungkas Kalahkan Keterbatasan Modal Uang

Views :592 Times PDF Cetak E-mail
Senin, 09 Januari 2012 11:50
ciputra_dalam_Q_TVMenjadi entrepreneur ialah cita-cita bagi sebagian anak muda di luar sana. Mereka memiliki keyakinan teguh berdasarkan apa yang dikatakan teman dan senior yang sudah memulai berbisnis bahwa tak peduli seberapa tingginya sebuah impian , peluang untuk berhasil itu ada.

Sayangnya, keyakinan yang kokoh itu terpaksa layu dan memudar setelah dihadapkan dengan keterbatasan modal finansial. Anak-anak muda ini terus bertanya apa mungkin menemukan sumber pendanaan tanpa menguras aset pribadi? Apakah Anda juga merasa hal yang sama menimpa Anda pula?


Bilamana Anda mendapati diri Anda berada dalam kondisi yang sama, dengan tantangan yang sama, ingatlah bahwa modal itu tak hanya berupa uang! Keringat kita juga bisa dianggap sebagai modal, kerja keras juga sebuah modal yang ternilai yang tak sembarang orang mampu memiliki. Sayang sekali banyak calon entrepreneur muda melupakan ini.

Kerja keras sebagai salah satu jenis aset bisnis justru ialah jenis modal utama yang harus dimiliki entrepreneur muda yang ingin bertahan dan sukses untuk seterusnya dalam dunia entrepreneurship. Bahkan, sebagian entrepreneur sukses berhasil dengan prinsip “Just Do It!”.

Apa yang saya kemukakan berikut ini merupakan 7 senjata pamungkas yang Anda harus gunakan saat modal uang tak ada di tangan.

Senjata 1: Tetap tekuni pekerjaan semula
Ini terutama berlaku bagi Anda yang masih bekerja dan ingin beralih menjadi entrepreneur dengan melakukannya secara bertahap sehingga bisa lebih mantap hasilnya. Terjun dalam dunia entrepreneurship bukan seperti loncat indah, apalagi jika Anda masih sama sekali asing. Anda tak disarankan untuk masuk begitu saja tanpa ‘pemanasan’ ke dalam air yang dingin di dalam kolam, tanpa menguasai teknik berenang, meloncat yang benar dan aman, dan sebagainya.Mulailah dengan menguji suhu air dan kedalamannya, menggerakkan badan secukupnya sehingga kemungkinan cedera/ kram lebih rendah. Hal-hal itu juga harus diterapkan dalam entrepreneurship. Lakukan secara bertahap, sehingga bisa mengukur risikonya. Itu lebih baik daripada tergesa-gesa berbisnis dengan mengorbankan pekerjaan sekarang, hanya untuk kemudian menyesal dan kembali menjadi karyawan selamanya karena merasa trauma. Apalagi jika Anda adalah penopang hidup bagi orang lain. Dibutuhkan waktu bagi sebuah usaha sukses sekalipun untuk menghasilkan laba dalam jumlah yang signifikan.

Senjata 2: Pelajari sebanyak mungkin mengenai cara memulai dan menjalankan sebuah bisnis.
Dapatkan buku-buku yang berkualitas, misalnya “Money Hunt: 27 New Rules for Creating and Growing a Breakaway Business” oleh Spencer dan Ennico, dan “The Art of the Start” oleh Guy Kawasaki. Keduanya merupakan buku umum untuk para pemula. Temukan pula buku-buku yang memperkuat kelemahan Anda dalam berbisnis seperti buku-buku penjualan, pemasaran, keuangan manajemen, dan sebagainya.


Senjata 3: Rekrutlah penasihat yang andal.
Seorang pengacara perusahaan yang andal penting peranannya di sini. Jangan lupa temukan sejumlah entrepreneur berpengalaman yang bersedia membantu.

Senjata 4: Buat rencana bisnis Anda.
Software murah seperti Business Plan Pro merupakan software yang bisa digunakan untuk menyusun business plan.

Senjata 5: Buat produk Anda.
Bersikaplah kreatif dan temukan cara untuk mengemabangkan purwarupa / prototip yang murah untuk berikan pemahaman bahwa ide Anda itu bisa diwujudkan secara nyata.

Senjata 6: Tunjukkan pada pelanggan potensial dan lihat apa yang Anda pikirkan.
Apakah ini memecahkan masalah nyata? Akankah hal itu menghemat uang , membuat mereka merasa lebih baik atau merasa bahwa sebagian kebutuhan telah terpenuhi?

Senjata 7:  Dapatkan pesanan pertama dari pelanggan.
Yakinkan mereka untuk membayar Anda sebelumnya. Buat produknya, kirimkan produk itu dan buat pelanggan/ pembeli gembira.

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/ciputra-notes-inspirasi/14140-7-senjata-pamungkas-kalahkan-keterbatasan-modal-uang.html

INSPIRASI AGNES TANDIA

Peluang Usaha

 
Senin, 09 Januari 2012 | 14:36  oleh Hafid Fuad
INSPIRASI AGNES TANDIA
Agnes mengolah kain perca batik menjadi sepatu unik
Dengan usia yang relatif masih muda, Agnes Tandia, 23 tahun, berhasil menemukan ide sekaligus memproduksi sepatu berbahan batik. Selain memasarkan produk sepatunya di dalam negeri, Agnes juga punya jaringan pemasaran sepatu hingga ke Malaysia. Saban sebulan, Agnes meraup omzet lebih dari Rp 60 juta.
Jika kebanyakan kaum perempuan hanya bisa membeli sepatu buatan orang lain, lain halnya dengan Agnes Tandia di Bandung. Ia justru lebih banyak memakai sepatu buatannya sendiri.
Bahkan keahlian Agnes membuat sepatu itu telah menjadi ladang bisnis yang menggiurkan baginya. Kini, Agnes mampu memproduksi hingga 500 pasang sepatu wanita per bulan dengan omzet lebih dari Rp 60 juta.
Agnes pertama kali membuat sepatu wanita pada 2008, saat ia berusia 19 tahun. Ide itu muncul saat ia melihat banyak sisa kain pembuatan jaket berserakan di konveksinya. Maklum, sebelum memproduksi sepatu, Agnes sudah memproduksi jaket batik.
Dari bahan batik sisa jaket itulah Agnes mendesainnya menjadi sepatu. "Sayang jika bahan batik itu terbuang percuma," terang Agnes.
Ketika itu, Agnes belum punya keinginan membuat sepatu untuk keperluan komersial. Dia hanya ingin membuat sepatu buat dirinya sendiri. Tapi ternyata, banyak koleganya tertarik dengan sepatu dengan tampilan unik itu. "Bahan batik menjadi lapisan luar dari sepatu," terang Agnes.
Karena banyak yang berminat, Agnes memutuskan memproduksi sepatu yang dia beri merek Kulkith itu. Bahkan, agar produknya ini terkenal, ia membawa sepatu itu pada ajang pameran. Pada tahun 2009 itu, Agnes mengikuti pameran kerajinan Inacraft di Jakarta Convention Center (JCC). "Saya membawa dua lusin sepatu motif batik yang saya produksi dengan modal Rp 2 juta," terangnya.
Dari pameran itu, hatinya makin mantap berbisnis sepatu batik lantaran punya pasar potensial. Hampir seluruh sepatu itu habis terjual. Agnes pun pulang dengan membawa duit sekitar Rp 8 juta. "Dari dua lusin yang saya bawa, yang tersisa hanya lima pasang," kenang Agnes.
Dengan usia yang tergolong muda, Agnes kini sudah memiliki toko sepatu sendiri di Bandung, Jawa Barat. Ia juga sudah memiliki agen penjualan sendiri di Jakarta. Tak hanya itu, Agnes juga memiliki agen pemasaran hingga ke Malaysia. Namun begitu, penjualan sepatu batiknya masih mengandalkan pasar Jabodetabek.
Keunggulan sepatu produksi Agnes terletak pada penggunaan bahan baku. Agnes membuat sepatu dengan memadukan kain batik dengan bahan baku kulit. "Penggunaan bahan batik inilah ciri khas sepatu kami," terang Agnes.
Dengan mematok harga jual Rp 130.000 sampai Rp 250.000 per pasang, Agnes membidik segmen pasar kalangan perempuan muda yang berusia 15 tahun sampai usia 25 tahun.
Alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB itu mengaku sengaja memproduksi sepatu batik untuk kaum perempuan. Sebab, dari penilaiannya, kaum perempuan lebih peduli akan desain sepatu ketimbang kaum pria. "Maka itu setiap bulan saya selalu merilis tiga desain baru agar tetap bisa mengikuti tren pasar sepatu," jelas Agnes.
Demi kepuasan pelanggannya, Agnes tidak mau menjual sepatu dengan harga mahal. Alasan dia, konsumen bakal jarang berbelanja jika harga jual sepatu itu terlalu berat bagi kantong. "Jika harganya murah, mereka akan sering berbelanja," terang Agnes.
Walaupun harga sepatu itu terbilang murah, tetapi Agnes tidak mau menyepelekan masalah produksi. Ia tetap membuat sepatu dari bahan baku batik berkualitas dan bahan kulit yang bermutu. "Pemilihan corak batik juga penting agar cocok dibuat sepatu," kata dia.
Dalam bisnis ini, keluhan Agnes hanya satu: susahnya mencari tenaga kerja. Sebab, bisnis ini butuh tenaga kerja yang terampil, handal, serta kreatif. "Faktor tenaga kerja sangat penting karena sepatu kami ini buatan tangan atau hand made," katanya.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/87093/Agnes-mengolah-kain-perca-batik-menjadi-sepatu-unik-