Tampilkan postingan dengan label UKM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UKM. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Januari 2013

Mecetak Untung dari Mengolah Kulit Sapi Jadi Suvenir

Di tangan sejumlah perajin di Yogyakarta, kulit sapi menjelma menjadi aneka suvenir berupa pembatas buku, kipas tangan, dan gantungan kunci. Motifnya beragam tapi kebanyakan tokoh-tokoh pewayangan. Peminatnya juga datang dari negara tetangga seperti Malaysia.

Aneka kerajinan yang terbuat dari kulit sapi semakin punya banyak peminat. Ambil contoh, suvenir pernikahan berupa pembatas buku tokoh-tokoh pewayangan yang terdapat ukiran kalimat. Tengok saja, Elisabet Riani, perajin sekaligus pemilik Rscardsouvenir di daerah Pakualaman, Yogyakartayang sering kebanjiran pesanan. Ia mengolah kulit sapi menjadi aneka produk suvenir, seperti pembatas buku, kipas, dan gantungan kunci. "Bisnis ini sudah saya tekuni sejak tahun 2001 lalu," ujar Elisabet.

Pelanggannya tidak hanya datang dari Yogyakarta dan sekitarnya saja, tapi juga dari Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Setiap kali memesan bisa 100 sampai 2.000 item. Dalam sebulan, jumlah order yang masuk lima sampai tujuh.

Tapi, Elisabet tidak melayani pesanan di bawah 100 item karena biaya produksi lebih mahal, kecuali pemesan mau membayar dengan harga lebih mahal. Harga pembatas buku untuk pesanan di atas 100 item mulai Rp 2.200 - Rp 4.000 per buah. Sementara, kipas tangan harganya Rp 3.200 -Rp 4.500 per buah. "Omzet saya bisa Rp 50 juta per bulan," ungkapnya

Saat ini, Elisabet sedang kebanjiran order yang total mencapai belasan ribu item. Karena itu, para pemesan rela menunggu dua bulan untuk mendapatkan pesanan suvenir tersebut. Masih di kota yang sama, Mizmaroch, pemilik Nunu Souvenir, mengatakan, permintaan pembatas buku dari kulit sapi terus meningkat. "Terutama saat bulan pernikahan dan musim liburan, biasanya untuk suvenir," ucap dia

Sebagai gambaran, perempuan 32 tahun ini bisa menjual sekitar 5.000 pieces pembatas buku per bulan. Dari jumlah itu, sekitar 50%-nya dibuat atas keinginan para pelanggan. Mizmaroch bilang, pembatas buku yang ia jual mayoritas bermotif wayang. "Pembeli saya datang dari Sumatra, Kalimanatan, Sulawesi, bahkan Malaysia dan Brunei, mereka suka motif wayang," katanya

Harga yang ia tawarkan berkisar Rp 2.000 per buah untuk pembatas buku biasa dan Rp 4.000 per buah imtuk pembatas buku yang halus. Semakin tipis dan halus, harganya semakin mahal. Rata-rata Mizmaroch bisa mengantongi omzet sebanyak Rp 30 juta per bulan dengan margin keuntungan 20%hingga 30%. "Persaingannya semakin ketat, banyak pemain baru," bebernya.

UKM Lokal Diajak Online, Apa yang Diincar Google?

Rabu, 11/01/2012 19:19 WIB

 
Ardhi Suryadhi - detikinet


Browser anda tidak mendukung iFrame

Ilustrasi (Ist.)

Jakarta - Lewat program Bisnis Lokal Go Online atau Get Indonesian Business Online (GIBO) yang menyasar usaha kecil dan menengah (UKM), Google menegaskan eksistensinya di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, 100 ribu UKM pertama yang mendaftar digratiskan dari sisi biaya domain, hosting dan langsung punya website sendiri. Lalu apa keuntungannya bagi Google?

Krishna Zulkarnain, Country Marketing Manager Google untuk Indonesia mengatakan bahwa GIBO adalah program yang memberikan sebuah tool atau cara bagi mereka (khususnya UKM) yang awam dengan internet untuk bikin website sendiri.

"Kita kasih gratis mulai dari domain, hosting dan lain-lainnya. Intinya bagaimana membuat mereka online dan memberikannya dengan mudah, cepat dan gratis," tukasnya kepada detikINET, Rabu (11/1/2012).

Dalam statistik yang dipaparkan Google menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 17 juta UKM dan hanya 75 ribu yang telah memiliki website. Sebagian besar UKM belum online karena persepsi internet itu mahal, rumit, dan alasan tidak ada waktu melakukannya.

"Nah, lewat program ini kita ingin menghapus semua persepsi negatif tersebut. Tidak mahal, justru gratis dan cepat. Cuma dalam waktu 15-30 menit sudah selesai membuatnya," lanjut Krishna.

Lalu jika semuanya gratis, apa keuntungannya bagi Google? Menurut Krishna, keuntungan yang didapat Google bisa diteropong dari sisi bisnis dan user.

Google melihat bahwa konten lokal dari setiap negara harus diperkaya untuk membentuk suatu dinamika positif di dunia maya. Menurut raksasa internet ini, konten lokal adalah hal yang membuat seru internet.

"Makanya strategi kita, karena konten lokal (Indonesia-red.) itu rendah maka kita ramaikan konten lokal dulu. Biar dinamika lebih sehat. Dan ini pun akan berimbas bagi pencarian Google secara jangka panjang," kata Krishna.

"Google kan bisnisnya di internet, jadi jika dinamika internet lebih sehat di jangka panjangnya Google menang juga. Jadi ini kita lihat sebagai investasi jangka panjang," lanjutnya.

Sementara dari sisi user, dengan program GIBO maka Google sekaligus akan memperkaya kontennya. Khususnya untuk urusan lokal dan bisnis UKM.

"Jika para UKM itu online dan informasinya tampil di internet, artinya di Google search kita dapat menampilkan informasi itu dan membagikannya ke pengguna. Misalnya ingin mencari toko bunga di jalan Bangka, kalau UKM di sana tak online, maka tak ketemu di pencarian. Jadi dengan ini (GIBO-red.) kami dapat memperkaya informasi, itu jangka pendeknya," Krishna menandaskan.

Ya, program yang digagas Google memang menarik. Terlebih, dalam bergerilya mereka menggandeng sederet perusahaan dan lembaga lokal. Sebut saja Kementerian Koordinasi Perekonomian, Kadin, Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI), Bakrie Connectivity, Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika, dan Ilmu Komputer (APTIKOM), Melsa serta Multiply.

Hingga pada akhirnya, bisa-bisa akan semakin ketergantungan saja pengguna internet Tanah Air dengan Google.

Bisnis Lokal Go Online

Sebelumnya, dijelaskan Managing Director Google Southeast Asia Julian Persaud, tujuan utama Bisnis Lokal Go Online ini adalah untuk membuat website dan mendorong UKM aktif secara online dalam waktu satu tahun ke depan.

Adapun 100 ribu UKM pertama yang mendaftar dapat memiliki website, domain, dan hosting gratis selama satu tahun. Pada tahun berikutnya UKM tersebut akan mendapatkan potongan harga dan hanya dikenakan biaya maksimal Rp 150 ribu per tahunnya.

Untuk membuat sebuah situs, UKM cukup mengunjungi situs resmi Bisnis Lokal Go Online, yaitu www.bisnisgoonline.co.id dan memasukkan informasi usaha mereka seperti nomor izin usaha, nomor telepon kantor, dan informasi lainnya seperti alamat dan jam kerja.

Dalam menjalankan program ini, Google menggunakan Business SiteBuilder, sebuah peranti lunak untuk desain website bisnis gratis milik Google. Piranti ini memungkinkan website secara otomatis dapat diakses melaui telepon seluler cerdas dan feature phone.


( ash / rns )
Posted on 01.47 | Categories: ,

Selasa, 08 Januari 2013

Imlek Menjelang, Guan pun Digadang

Perayaan tahun baru Imlek membawa berkah bagi pemilik usaha barongsai. Biasanya menjelang Imlek, banyak pengelola tempat hiburan seperti mal atau hotel menampilkan atraksi barongsai untuk memikat pengunjung. Lantaran pesanan membanjir, pemilik usaha barongsai pun tak segan menaikkan tarif pertunjukan.

Bagi masyarakat Tionghoa, pementasan serta atraksi barongsai merupakan tradisi yang harus ada untuk memeriahkan perayaan tahun baru Imlek. Konon, pementasan barongsai bisa mengusir roh jahat. Tradisi ini pun mendatangkan rezeki bagi para pemilik usaha barongsai. Sejak awal bulan ini, pesanan jasa pertunjukkan barongsai naik hingga dua kali lipat dari biasanya. Tarif sewa atraksi pun ikut-ikutan terkerek naik.

Penyewa umumnya berasal dari para pengelola pusat perbelanjaan dan hotel. Tak hanya untuk memeriahkan perayaan Imlek, mereka juga menyewa barongsai sebagai salah satu cara menggaet pengunjung.

Salah satu klub barongsai yang ketiban rezeki Imlek ini, bernama Hok Tek Tjeng Sin yang bermarkas di Jalan Palmerah, Jakarta Barat. Teguh Wang, pemilik klub Hok Tek Tjeng Sin, bilang, sejak awal bulan Januari ini, klub barongsai miliknya sudah kebanjiran pesanan. "Bahkan mereka sudah membayar uang muka 50%," ujarnya.

Dia mengatakan, dua pekan sebelum tahun baru Imlek yang jatuh pada 23 Januari 2011, ia sudah mendapatkan sedikitnya 20 order manggung. Di bulan-bulan biasa, Teguh paling banyak mendapatkan 10 order saja

Order pertunjukan barongsai datang dari salah satu stasiun televisi swasta, pusat perbelanjaan, hotel dan apartemen. Teguh bahkan mengaku sampai kewalahan memenuhi pesanan dari konsumen. Kalau sudah tak sanggup memenuhi, ia akan membagi pesanan itu ke temannya sesama pemilik usaha barongsai. "Sekarang sudah ada lima pesanan lagi menyusul.

Hukum ekonomi pun berlaku pula di bisnis ini. Banyaknya order ini membuat Teguh tak segan-segan menaikkan tarif sewa atraksi barongsai hingga 100%. Jika pada hari biasa, ia mematok tarif antara Rp 2 juta sampai Rp 8 juta, tergantung durasi pertunjukan.

Nah, saat Imlek, tarifnya pun naik menjadi Rp 4 juta hingga Rp 15 juta untuk sekali pentas. Tarif ini khusus untuk tempat hiburan seperti hotel dan mal," kata Teguh yang biasa memainkan barongsai selama 30 menit sampai 60 menit itu.

Tapi pada Imlek tahun ini, Teguh mengaku, rata-rata mendapatkan order Rp 8 jutasekali pentas. Jadi dengan 20 kah manggung, penghasilan dia bisa mencapai Rp 160 juta. Sekali pertunjukan ia melibatkan 25 kru tetap.

Aldo Reno, pemilik Sanggar Yidao Barongsai di Mangga Dua, Jakarta juga menaikkan tarif atraksi selama Imlek. Kalau biasanya dia mematok tarif Rp 3,5 juta sampai Rp 4 juta selama 30 menit tampil, pada momen Imlek, tarifnya menjadi Rp 5,5 juta per 30 menit. Dia bilang, tarif naik lantaran sering ada pesanan mendadak sehingga membutuhkan pemain untuk stand by. Alhasil Aldo pun harus memberikan fee lebih kepada pemain tersebut.

Menjelang Imlek tahun ini, Aldo sudah mendapatkan tiga pesanan, di antaranya dari Cilandak Town Square, dan program MetroTV Golden Ways Mario Teguh. Untuk mengentaskan barongsai di pusat perbelanjaan, biasanya ada beberapa persyaratan yang diminta pengelola mal. "Misalnya mereka minta tidak boleh terlalu tinggi-tinggi takut ada kecelakaan," ungkap dia

Namun, umumnya para pemain Yidao Barongsai selalu dilatih untuk melakukan gerakan improvisasi ketika pentas. Ini agar penonton terpukau denganatraksi barongsai. Aldo berharap, mendekati perayaan Imlek nanti, pesanan akan terus berdatangan. "Saya yakin, sebab tahun ini kan Tahun Naga, jadi banyak keberuntungan," imbuh dia.

Pemilik Cheer Production, Indra Alvindra juga membenarkan pesanan atraksi barongsai melimpah menjelang perayaan Imlek. Ia mengaku, selama bulan ini saja, pesanan sudah naik 100% dari bulan biasa.

Indra bilang, pada Imlek tahun ini, ia sudah mendapatkan 15 pesanan manggung diberbagai tempat, terutama pusat perbelanjaan dan hotel di Jakarta. Setahun lalu, klub barongsai miliknya malah manggungselamasatu bulan penuh di salah satu mal terbesar di Jakarta

Berbeda dengan Teguh dan Reno, Indra memilih tidak menaikkan tarif pertunjukan barongsai menjelang Imlek tahun ini. Ia khawatir, kalau tarif dinaikkan, pesanan atraksi barongsai malah berkurang. Saat ini, Indra mematok tarif Rp 5 juta sekali tampil per 45 menit. Jika penyewa barongsai meminta tambahan waktu, tarifnya akan lebih tinggi lagi. "Semuanya tergantung kesepakatan bersama," jelasnya.

Chocodot Jajaki Pasar Ekspor

Produsen chocodot, cokelat dan dodol khas Garut, Jawa Barat, bersiap melakukan ekspansi usaha. Rencananya, UD Tama Cokelat, produsen chocodot di Garut, akan memasarkan chocodot ke pasar ekspor mulai i.tiniii ini.

Kiki Gumelar, pemilik Tama Cokelat, mengatakan, saat ini ia sedang mengurus perizinan untuk ekspor ke Arab Saudi. Di sana kebetulan banyak sekali tenaga kerja Indonesia. "Saya sudah siapkan produk cokelat isi buah kurma," kata pemilik gerai djieun Tjokelat ini.

Selain ekspor, Kiki juga akan menambah beberapa cabang djieun Tjokelat lagi di beberapa kota. Antara lain di Yogyakarta dan Bali. Saat ini djieun Tjokelat sudah memiliki enam cabang di Garut. Gerai Kiki juga sudah ada di Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, dan Batam, namun masih bekerjasama dengan tempat perbelanjaan. "Kalau di Yogyakarta dan Bali saya punya sendiri, resmi buka bulan depan,"ujar dia.

Kiki bilang, agar menarik pembeli, ia membuat produk chocodot yang disesuaikan dengan makanan khas daerah setempat. Misalnya di Bandung, Kiki membuat chocodot isi bajigur dan bandrek, di Bogor ada chocodot isi buah kenari, dan di Semarang ada chocodot isi jenang. "Saya ingin membuat brand Indonesian chocodot," imbuhnya.