Tampilkan postingan dengan label manajemen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manajemen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Januari 2013

Kebiasaan Buruk dalam Bisnis yang Wajib Ditinggalkan

Views :326 Times PDF Cetak E-mail
Senin, 16 Januari 2012 14:35
bad-habitsTahun 2012 telah tiba. Tahun yang disinyalir memberi keuntungan tersendiri dalam dunia bisnis ini selayaknya disambut dengan sikap dan semangat baru demi mencapai keberhasilan. Karena itu, jangan segan-segan untuk meninggalkan serangkaian kebiasaan lama yang kerap mengganjal laju pertumbuhan bisnis Anda.

Nah, apa sajakah kebiasaan-kebiasaan buruk yang wajib ditinggalkan dan dihindari di tahun 2012 ini. Berikut ulasannya seperti yang disarikan dari laman Business on Main.

Kebiasaan buruk pertama: membiarkan data berisiko besar
Dari hasil survei GFI Software, sebanyak 40 persen perusahaan kecil dan menengah lemah dalam hal keamanan data dan hasil studi lain menyebutkan sebanyak 57 persen bisnis kecil tidak memiliki perencanaan yang baik terhadap kemungkinan terjadinya penyerangan atau kehilangan data perusahaannya.

Kebiasaan buruk kedua: tidak terorganisir
Dalam studi terbaru yang dikeluarkan Oasys, lebih dari sepertiga karyawan membuang-buang waktu selama lebih dari dua jam hanya untuk berurusan dengan email dari dan untuk klien. Pernah mengalami hal itu? Jika iya, itu artinya pekerjaan Anda kurang terorganisir.

Hal ini harus segera ditinggalkan karena menyebabkan kekacauan dalam bekerja dan menurunnya produktifitas kerja. Dalam dunia bisnis, gagal dalam menciptakan sistem dan prosedur yang terstruktur dan terorganisir menandakan usaha Anda tidak skalabel (terukur).

Kebiasaan buruk ketiga: menghemat waktu tidur
Pernah berharap memiliki waktu lebih dalam sehari untuk menyelesaikan pekerjaan? Jangan mencoba untuk menciptakannya di waktu istirahat Anda pada malam hari. Studi dari West Virginia University School of Medicine, AS, menyebutkan tidur kurang dari lima jam sehari bisa menggandakan risiko terkena serangan jantung serta stroke.

Perlu diperhatikan, olahraga teratur, mengonsumsi makanan sehat dan tidur cukup merupakan faktor-faktor yang bisa menunjang kesuksesan Anda dalam menjalani hidup.

Kebiasaan buruk keempat: mengabaikan media sosial
Bila masih berpikir bahwa bisnis yang sedang Anda tekuni tidak membutuhkan peran media sosial, Anda membuat kesalahan besar. Berdasarkan survei Chief Marketer Social Marketing Survey pada 2011, sebanyal 73 persen pelaku bisnis telah memanfaatkan media sosial dalam kampanye marketing dan 15 persen selebihnya telah berencana untuk memanfaatkannya pada tahun ini.

Dengan kata lain, pada tahun ini masih ada 12 persen pelaku bisnis yang belum menggunakan media sosial dalam menjalani usahanya. Apakah Anda salah satu di antaranya? Jika memang demikian, itu keputusan Anda. Tapi jika ingin berubah dan berhasil cobalah ‘berkawan’ dengan Twitter, Facebook serta LinkedIn dan cari tahu apa saja yang bisa diberikan media sosial itu untuk kepentingan bisnis Anda. Sebagai saran, login-lah ke HootSuite, NutshellMail dan Sendible untuk mengatur akun-akun Anda.

Kebiasaan buruk kelima: tidak mengikuti tren mobile
Bila belum menyadari, kami akan mengingatkan kepada Anda bahwa dunia telah concern pada mobile. Konsumen dan pelaku bisnis banyak yang mencari informasi, belanja dan berelasi dari smartphone (telepon cerdas) serta tablet mereka.

Namun patut disayangkan, menurut survei yang diadakan Constant Contact, 72 persen pelaku bisnis kecil mengaku bahwa mereka belum terhubung secara mobile dalam melakukan marketing bisnisnya dan hanya 13 persen saja yang melakukannya.

Jangan ketinggalan tren. Segera gunakan perangkat seperti mobiReady dan Network Solution’ goMobil untuk menciptakan website bisnis Anda yang mobile-friendly, mudah dibaca serta cepat diakses.

Kebiasaan buruk keenam: mengabaikan arus kas
Sepertiga pelaku bisnis kecil yang disurvei oleh Rocket Lawyer menyatakan bahwa setidaknya ada 25 persen konsumen yang melakukan keterlambatan transaksi lebih dari 90 hari. Banyak konsumen dari berbagai industri yang memakai konsep pembayaran ‘di kemudian hari’. Ini yang menyebabkan kekacauan dalam pengaturan arus kas bila Anda tak pandai-pandai menyiasatinya.

Kebiasaan buruk ketujuh: berpikir untuk jangka pendek
Masih banyak pelaku bisnis yang menghabiskan waktu hanya untuk memikirkan strategi jangka pendek serta fokus pada rutinitas bisnis sehari-hari. Tapi bila pelaku bisnis tak segera meluangkan waktu untuk menetapkan perencanaan bisnis untuk beberapa tahun yang akan datang maka perencanaan yang sederhana sekalipun takkan tercipta.

Buatlah jadwal beberapa jam dalam seminggu untuk membuat strategi jangka panjang serta mengecek pertumbuhan bisnis dan mengevaluasi strategi yang telah diambil. Dan penting pula sesekali keluar dari rutinitas mengelola bisnis untuk menjalin relasi dan membangun jaringan demi kepentingan bisnis Anda.

Kebiasaan buruk kedelapan: menyalahkan orang lain
Menyalahkan orang lain atas serangkaian kegagalan yang terjadi dalam bisnis Anda harus mulai dihilangkan di tahun 2012 ini. Kegagalan adalah risiko serta tantangan dalam berbisnis. Daripada menghabiskan waktu untuk menyalahkan orang lain, lebih baik waktu itu dipakai untuk mengevaluasi kesalahan yang sebabkan kegagalan dan mencari solusi untuk memperbaikinya. (*/ely)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/177-manajemen/14365-kebiasaan-buruk-dalam-bisnis-yang-wajib-ditinggalkan.html

Sabtu, 05 Januari 2013

Trik Mengelola Keuangan Usaha

Views :426 Times PDF Cetak E-mail
Kamis, 05 Januari 2012 08:51
keuangan0112Ada kalanya pebisnis mengeluh penghasilan dari usahanya selalu habis sebelum ditabung. Kalau pun ada yang bisa ditabung, jumlahnya hanya sedikit. Padahal, proyek yang ia terima cukup banyak. Seharusnya, usahanya bisa berjalan lancar dan hidupnya bisa senang meski sedang tidak ada order. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Hal ini mungkin pernah dialami oleh sebagian orang yang mengawali dunia usaha. Apalagi, jika usaha tergolong jenis usaha keluarga. Pada awal usaha, saat mendapat proyek, uang selalu saja habis untuk menghidupi keluarga. Istilahnya, saat sudah senang, lupa segalanya. Lupa harus bayar listrik, telepon, internet, transportasi, dan sebagainya.

Dan satu hal yang selalu terlupakan adalah mencatat semua kegiatan dan transaksi. Tak banyak usaha kecil yang melakukannya. Padahal, pencatatan adalah langkah dasar penting yang harus dilakukan untuk memajukan usaha. Lalu, bagaimana mengatur keuangan usaha yang baik? Berikut hal-hal yang bisa Anda lakukan seperti kami sadur dari Majalah Chic.

1. Tentukan porsi keuanganCara paling mudah untuk mengatur keuangan usaha adalah dengan menyepakati sejak awal berapa porsi uang yang akan digunakan sesuai lalu lintas uang yang dibutuhkan. Misalnya, berapa jumlah uang yang akan digunakan untuk membayar gaji, operasional perusahaan, serta berapa keuntungan yang akan digunakan mengembangkan usaha dan untuk ditabung.

Untuk langkah awal, Anda bisa mencoba membagi porsi 30:30:30:10. Porsi 30 persen untuk gaji, 30 persen lagi untuk operasional perusahaan, seperti sewa kantor, biaya listrik, telepon, fax, transportasi, dan lain sebagainya. Lalu 30 persen lainnya untuk mengembangkan usaha, dan sisa 10 persen untuk tabungan pribadi.

Jadi, misalnya pemasukan sebesar Rp 20 juta, Rp 6 juta (30 persen) langsung dipotong di awal untuk disishkan sebagai gaji, Rp 6 juta untuk biaya operasional, Rp 6 juta untuk biaya pengembangan usaha, dan Rp 2 juta untuk tabungan pribadi.

Pola pembagian dengan struktur jumlah persentase ini tidak mutlak. Anda boleh menentukan sendiri. Yang perlu diperhatikan adalah kedisiplinan dalam membagi berdasar nilai yang sudah disepakati di awal. Dengan cara ini, Anda akan lebih mudah mengatur keuangan usaha.

2. Pisahkan rekening pribadi dan usahaSetelah porsi ditentukan, langkah berikutnya lakukan pencatatan keuangan usaha. Memang jika usaha masih kecil, kita cenderung sering menyamakan antara uang yang diterima dalam usaha dan uang untuk kepentingan pribadi. Bahkan kita biasanya menyimpan uang itu dalam satu nomor rekening.

Padahal, jika keuangan usaha dan keuangan pribadi digabung, Anda akan kesulitan dalam melakukan monitoring pendapatan atau pun pengeluaran yang telah dilakukan. Dengan melakukan pemisahan pencatatan antara keuangan usaha dengan keuangan pribadi, maka akan lebih mudah untuk membedakan antara arus dana dari usaha dengan penggunaan uang untuk kepentingan pribadi.

Di samping itu, pemisahan pencatatan juga dapat memberikan informasi lebih jelas tentang keadaan finansial dari usaha yang sedang dijalankan. Apalagi saat ini sejumlah bank sudah menyediakan produk layanan yang dapat mendukung pencatatan keuangan usaha Anda.

3. Jangan mudah tergoda

Inilah poin yang utama sebagai bentuk usaha mendisiplinkan diri. Dan, memang kunci utama mengatur keuangan usaha adalah disiplin dalam mematuhi porsi persentase yang kita atur untuk keuangan usaha dan pribadi.

Godaan biasanya sering datang saat sedang banyak order. Barang-barang tadinya belum terlalu penting jadi seperti "minta dibeli". Ada kalanya, saat uang masuk dalam jumlah besar, tiba-tiba kita merasa butuh ini dan itu. Salah satunya, membeli baju dengan alasan agar terlihat lebih pantas saat bertemu klien.

Memang tidak ada salahnya memenuhi keinginan itu. Namun dengan catatan, Anda mesti bisa membedakan kebutuhan dan keinginan. Sebelum membeli sesuatu dengan alasan usaha, tanyakan dulu, apakah itu merupakan kebutuhan mendesak atau keinginan yang bisa ditunda. Nah, jawaban ini yang akan membantu Anda menentukan ke mana uang bisa digunakan.

Bila memungkinkan dan punya cukup dana, Anda bisa menggunakan software akuntansi untuk pencatatan keuangan usaha. Dengan software ini, pencatatan keuangan bisa dilakukan lebih profesional dan rapi. Dengan begitu, Anda juga tidak memiliki celah untuk seenaknya mengambil uang usaha untuk kebutuhan pribadi.

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/177-manajemen/14009-trik-mengelola-keuangan-usaha.html