Tampilkan postingan dengan label Burung Cantik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Burung Cantik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Januari 2013

Cekakak Belukar


Cekakak Belukar atau dalam nama ilmiahnya Halcyon smyrnensis adalah sejenis burung raja-udang dari suku Alcedinidae (beberapa penulis memasukkannya ke dalam suku baru, Halcyonidae). Burung yang menyebar luas ini dikenal dengan banyak nama dalam bahasa Inggris, di antaranyaWhite-throated KingfisherWhite-breasted Kingfisher atau Smyrna Kingfisher.


Burung yang berukuran sedang, panjang tubuh total (diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor) sekitar 27 cm. Dominan berwarna coklat dan biru, dengandagu, kerongkongan dan dada berwarna putih.
Kepala, leher dan perut hingga pantat coklat merah. Sayap, mantel dan ekor biru menyala. Penutup sayap bagian atas dan ujung sayap coklat gelap atau kehitaman. Ketika terbang, sisi bawah sayap nampak biru dengan bulatan putih besar di tengahnya.
Iris mata coklat, paruh dan kaki merah. Dari segi penampilan dan perilaku, sepintas burung ini mirip kerabatnya: Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris) yang menyebar terbatas di Jawa dan Bali.

Burung ini menyebar luas mulai dari Timur Tengah, India, Tiongkok, Asia Tenggara, Semenanjung Malaya, Filipina, Kep. Andaman, dan Sumatra. Burung migran kadang-kadang sampai ke Jawa Barat.
Di Sumatra terutama menghuni lahan-lahan terbuka, wilayah pertanian dekat sungai atau badan air lainnya, termasuk dekat pantai. Burung ini lincah memburu aneka mangsanya: serangga besar, kodok, kadal, ular, hewan pengerat, dan bahkan juga burung-burung migran kecil yang kelelahan.
Kerap terlihat bertengger di dahan kering, tonggak, kawat listrik dan lain-lain tenggeran terbuka. Bersuara ribut sambil terbang, cikikikikikikikikiii..., atau memanggil sedih dari tenggerannya: ciririririririiii..ew berulang-ulang, nada di ujung menurun.
Cekakak Belukar bersarang di lubang pada tebing tanah atau batang pohon. Bertelur sejumlah 4-7 butir, hampir bundar dan berwarna putih.

Junai Mas


Junai Mas atau dalam nama ilmiahnya Caloenas nicobarica adalah sejenis burung berukuran sedang, dengan panjang sekitar 34cm, dari salah satu genus burung merpati Caloenas.

Burung Junai Mas memiliki bulu berwarna hitam keabuan dilapisi dengan hijau keemasan mengilap di bagian leher, mantel, punggung dan sayapnya. Bulu leher dan sayap memanjang. Paruhnya berwarna hitam dengan sedikit benjolan dipangkalnya. Jantan dan betina serupa. Burung dewasa memiliki ekor pendek berwarna putih, kaki abu-abu dengan cakar kuning. Burung muda berwarna kehitaman dengan bulu leher pendek dan kaki kecoklatan.
Burung Junai Mas bersarang di atas pohon atau semak, dengan ketinggian antara dua sampai duabelas meter dari permukaan tanah. Sarangnya terbuat dari ranting-ranting yang di tata tidak beraturan. Burung betina biasanya menetaskan sebutir telur berwarna putih, yang dierami oleh kedua induknya.
Populasi Junai Mas tersebar di kepulauan di daerah Asia Tenggara. Habitatnya adalah hutan hujan tropis, hutan pantai, hutan bakau dan hutan-hutan dataran rendah. Burung ini ditemukan di pulau Andaman, Nicobar, pulau-pulau kecil di sekitar Jawa, Sumatra, Sulawesi, Nusa Tenggara, Irian, Thailand,Filipina, Palau dan Kepulauan Solomon. Spesies ini banyak ditemukan dan berkembang biak di pulau yang tidak dihuni oleh manusia.
Junai Mas adalah terestrial spesies. Burung ini banyak menghabiskan waktunya di permukaan tanah, mencari makanan. Pakan burung Junai Mas terdiri dari aneka biji-bijian, buah-buahan yang jatuh di tanah dan berbagai jenis hewan kecil.
Burung Junai Mas memiliki daerah sebaran yang luas, namun hilangnya habitat hutan, penangkapan liar untuk perdagangan serta pengenalan hewan-hewan asing di habitatnya seperti anjing, kucing dan tikus mengancam keberadaan spesies ini. Junai Mas dievaluasikan sebagai hampir terancam di dalam IUCN Red List dan didaftarkan dalam CITES Appendix I.

Senin, 14 Januari 2013

Mambruk Victoria


Mambruk Victoria atau dalam nama ilmiahnya Goura victoria adalah sejenis burung yang terdapat di dalam suku burung Columbidae. Mambruk Victoria adalah salah satu dari tiga burung dara mahkota dan merupakan spesies terbesar di antara jenis-jenis burung merpati.
Burung Mambruk Victoria berukuran besar, dengan panjang mencapai 74 cm, dan memiliki bulu berwarna biru keabu-abuan, jambul seperti kipas dengan ujung putih, dada merah marun keunguan, paruh abu-abu, kaki merah kusam, dan garis tebal berwarna abu-abu di sayap dan ujung ekornya. Di sekitar mata terdapat topeng hitam dengan iris mata berwarna merah. Burung jantan dan betina serupa.
Populasi Mambruk Victoria tersebar di hutan dataran rendah, hutan sagu dan hutan rawa di bagian utara pulau Irian, yang juga termasuk pulau Yapen, pulau Biak, dan pulau-pulau kecil disekitarnya.
Burung Mambruk Victoria bersarang di atas dahan pohon. Sarangnya terbuat dari ranting-ranting dan dedaunan. Burung betina biasanya menetaskan sebutir telur berwarna putih.
Mambruk Victoria adalah spesies terestrial. Burung ini mencari makan di atas permukaan tanah. Pakan burung Mambruk Victoria terdiri dari aneka biji-bijian dan buah-buahan yang jatuh di tanah. Spesies ini biasanya hidup berpasangan atau dalam kelompok.
Nama dari spesies ini memperingati seorang ratu Inggris, Victoria dari Britania Raya.
Mambruk Victoria diburu untuk diambil daging dan bulunya. Spesies ini sudah jarang ditemui di daerah dekat populasi manusia. Mambruk Victoria dievaluasikan sebagai rentan di dalam IUCN Red List dan didaftarkan dalamCITES Appendix II.

Sabtu, 12 Januari 2013

Golden Pheasant


The Golden Pheasant atau " Pheasant Cina ", (Chrysolophus pictus) adalah gamebird dari tatanan Galliformes (burung gallinaceous) dan keluarga Phasianidae . Hal ini asli hutan di daerah pegunungan bagian barat Cina , tetapi populasi liar telah didirikan di Inggris dan di tempat lain.

Jantan dewasa 90-105 cm, ekor akuntansi untuk dua-pertiga dari total panjang. Hal ini jelas dengan keemasan puncak dan pantat dan tubuh merah cerah. Jeruk dalam "jubah" dapat menyebar di layar, muncul sebagai sebuah kipas hitam dan oranye bergantian yang mencakup semua wajah kecuali mata kuning terang, dengan pupil hitam menentukan.
Jantan memiliki puncak emas kuning dengan sedikit warna merah di ujungnya. Wajah, leher, dagu, dan sisi leher cokelat berkarat. Para pial dan kulit orbit keduanya berwarna kuning, dan ruff atau jubah berwarna oranye terang. Punggung atas berwarna hijau dan sisanya dari bagian belakang dan pantat yang keemasan berwarna kuning. Para tertiaries berwarna biru sedangkan scapular berwarna merah gelap. Karakteristik lain dari bulu laki-laki adalah pusat bulu ekor yang terlihat hitam dengan kayu manis serta ujung ekor menjadi penggemar kayu manis. Para bulu ekor bagian atas adalah warna yang sama dengan bulu ekor pusat. Pria juga memiliki payudara merah, dan panggul kastanye merah dan cahaya dan hamster. Tungkai bawah dan kaki kuning kusam.
Betina jauh lebih sedikit mencolok, dengan bintik-bintik cokelat kusam bulu yang mirip dengan yang ada pada perempuan Pheasant umum .Dia lebih gelap dan lebih langsing daripada ayam dari spesies, dengan ekor proporsional lagi (setengah panjang 60-80 cm nya). Payudara perempuan dan sisi dilarang coklat buff dan kehitaman, dan perut adalah penggemar polos. Dia memiliki wajah buff dan tenggorokan. Beberapa betina abnormal mungkin kemudian dalam hidup mereka mendapatkan beberapa bulu laki-laki. Tungkai bawah dan kaki kuning kusam.
Meskipun penampilannya mencolok jantan itu, ini hardy burung sangat sulit untuk melihat di alam mereka habitat , yang padat, gelap muda konifer hutan dengan semak jarang. Akibatnya, sedikit yang diketahui dari perilaku mereka di alam liar.
Mereka makan di tanah pada biji-bijian, daun dan invertebrata , namun bertengger di pohon-pohon di malam hari. Sementara mereka bisa terbang, mereka lebih memilih untuk menjalankan: tetapi jika kaget mereka tiba-tiba bisa meledak ke atas dengan kecepatan tinggi, dengan suara khas sayap.
Meskipun mereka bisa terbang dalam ledakan singkat mereka cukup ceroboh dalam penerbangan dan menghabiskan sebagian besar waktu mereka di tanah.Burung pegar emas berbaring 8-12 telur pada suatu waktu dan kemudian akan menetaskan ini untuk sekitar 22-23 hari. Mereka cenderung makan buah, belatung, biji dan jenis-jenis vegetasi .
The Golden Pheasant sering ditemukan di kebun binatang dan kandang burung, tetapi sering sebagai spesimen murni yang memiliki serupa Pheasant Lady Amherst itu dalam garis keturunan mereka. Burung-burung yang digambarkan di sini adalah khas. Sebagai contoh, satu gambar di bawah ini menunjukkan tanda-tanda halus dari sebuah hibrida di wajah gelap, dan kuning memperluas ke dalam apa yang seharusnya menjadi sayap merah murni gelap (di mana di Amherst, sisi putih akan memenuhi payudara bulu hijau di daerah ini) .

Jumat, 11 Januari 2013

Kakatua Jambul Kuning


Kakatua Kecil Jambul Kuning merupakan satu dari enam spesies kakatua yang terdapat di Indonesia. Burung berparuh bengkok ini mempunyai ciri khas bulu putih yang menutupi hampir seluruh tubuhnya dan jambul yang berwarna kuning.

Ciri-ciri Fisik dan Perilaku. Salah satu spesies kakatua ini mempunyai ukuran sedang dengan panjang sekitar 35 cm. Semua bulunya berwarna putih semua. Di kepalanya terdapat jambul berwarna kuning yang dapat ditegakkan. Kakatua-kecil jambul-kuning memiliki paruhberwarna hitam serta kulit di sekitar matanya berwarna kebiruan dan kakinya berwarna abu-abu. Bulu-bulu terbang dan ekor burung langka ini berwarna kuning.
Kakatua Kecil Jambul Kuning dalam bahasa latin disebut Cacatua sulphurea (Gmelin, 1788). Sedang dalam bahasa Inggris burung yang nyaris punah ini disebut Yellow-crested Cockatoo atauLesser Sulphur-crested Cockatoo.
Burung berparuh bengkok ini mendiami daerah hutan, pingiran hutan, semak hingga daerah pertanian dengan ketinggian mencapai 800 meter dpl. Jenis kakatua ini membuat sarang pada batang-batang pohon tertentu. Makanan burung ini adalah biji-bijian, kacang, dan aneka buah-buahan.
Sebagaimana jenis kakatua lainnya, Kakatuan Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) merupakan burung yang pandai. Burung yang nyaris punah ini dapat dilatih untuk melakukan berbagai gerakan dan menirukan ucapan manusia.
Anak jenis dan Persebaran Kakatua Kecil Jambul Kuning. Kakatuan Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) merupakan burung endemik Indonesia dan Timor Leste. Burung yang nyaris punah ini tersebar di seluruh Nusa Tenggara (termasuk Bali dan Timor), Sulawesi dan pulau sekitarnya, serta di kepulauan Masalembu.
Kakatuan Kecil Jambul Kuning terdiri atas 4 subspesies (anak jenis), yaitu:
  • Cacatua sulphurea sulphurea; Anak jenis ini tersebar mulai dari pulau Sulawesi, Muna, Buton, Tanahjampea, Kayuadi, Kalao, Madu, Kalaotoa, dan Kepulauan Tukangbesi.
  • Cacatua sulphurea parvula; Anak jenis ini tersebar di Nusa Tenggara, kecuali Pulau Sumba (Lombok, Sumbawa, Moyo, Padar, Rinca, Komodo, Flores, Pantar, Alor, Semau, dan Pulau Timor). Selain itu terdapat juga di Nusa Penida dan Bali.
  • Cacatua sulphurea citrinocristata; merupakan anak jenis endemik Pulau Sumba. Anak jenis ini mempunyai jambul berwarna orange.
  • Cacatua sulphurea abbotti; Anak jenis ini merupakan endemik kepulauan Masalembu. Masalembu merupakan kepulauan di Laut Jawa yang terdiri tiga pulau (Masalembu, Masakambing, dan Keramaian). Kepulaun ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.
Populasi dan Konservasi. Populasi Kakatua Kecil Jambul Kuning semakin terancam punah. Menurut data IUCN Redlist (2007), populasi burung ini di alam bebas diperkirakan tidak lebih dari 7.000 ekor saja. 3.200-5.000 ekor terdapat di pulau Sumba, 500 ekor di pulau Komodo, 200-300 ekor di Timor Leste, 200-300 ekor di Sulawesi, 20-50 di Timor Barat, 40-70 di Flores, 50-100 di Sumbawa, 100 di Pulau Rinca dan sekitar 700 burung di berbagai pulau lainnya.
Bahkan berdasarkan survei Bird Life Internasional, populasi burung berjambul kuning ini jauh lebih sedikit. Seperti populasi anak jenis C. s. abbotti yang endemik Masalembu (2008) tinggal 10 ekor dan C. s. sulphurea diperkirakan hanya tinggal 24 ekor saja. Sedangkan dua anak jenis lainnya (C. s.
citrinocristata dan C. s. parvula) diperkirakan populasi masing-masing masih di atas 500-an ekor.
Populasinya yang semakin menurun dan nyaris terancam punah membuat membuat IUCN Redlist memasukkan burung ini dalam status konservasi Critically Endangeredsejak 2000. CITES juga telah memasukkan burung ini dalam daftar Apendik I sejak 2005. Dan oleh pemerintah sendiri, burung Kakatua Kecil Jambuil Kuning (Cacatua sulphurea) termasuk binatang yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999.
Meskipun demikian, penurunan populasi masih terus terjadi. Penurunan ini diakibatkan oleh perburuan dan perdagangan bebas. Tidak sedikit burung Kakatua Kecil Jambul Kuning yang ditangkap dari alam liar kemudian di jual ke luar negeri. Padahal burung ini telah terdaftar dalam CITES Apendiks I yang artinya sama sekali tidak boleh diperdagangkan secara komersil. Hal ini masih diperparah dengan degradasi habitat (kerusakan hutan) yang terjadi di Indonesia.
Menurut data dari LSM Burung Indonesia, Selama tahun 1981-1992 sebanyak 97 ribu ekor kakatua kecil jambul kuning telah diekspor keluar Indonesia. Pada 1993, lebih dari seribu ekor burung ini telah diselundupkan melalui Singapura.
Satu fakta unik saya dapatkan dari www.burung.org. Hingga tahun 1999, tercatat jumlah populasi burung Kakatuan Kecil Jambul Kuning yang terbentuk tanpa sengaja di Singapura (sebanyak 200 ekor) dan Hong Kong (30-50 ekor). Terbentuknya populasi di luar habitat aslinya ini diperkirakan akibat pelepasan burung peliharaan baik disengaja ataupun tidak.
Terciptanya populasi baru di luar negeri dan semakin langka serta terancam punahnyaKakatuan Kecil Jambul Kuning di berbagai habitat aslinya di Indonesia membuat miris. Bisa jadi suatu ketika burung ini punah dari Indonesia dan populasi malah berkembang biak di luar negeri.

Sabtu, 05 Januari 2013

Kuau Raja


Ciri fisik burung kuau raja memiliki bulu sayap dan ekor yang panjang, berwarna coklat kemerahan dengan motif bulat menyerupai mata serangga. Burung ini memiliki jambul tipis di atas kepala dan kulit kepala berwarna biru. Burung betina berukuran lebih kecil daripada burung jantan dan bulunya dihiasi sedikit motif bulat.


Kuau raja mengeluarkan suara bunyi ku-wau mungkin hal tersebut untuk menjelaskan nama spesies ini. Interval suara itu berkisar antara 15 – 30 detik. Burung ini biasa terbang pada jarak pendek di mana habitatnya hidup di permukaan tanah pada hutan tropis di dataran rendah.

Populasi burung kuau raja atau nama latinnya Argusianus argus terus menurun walaupun tidak terlalu cepat, karena kehilangan habitat dan diburu manusia. Populasi diperkirakan saat ini mencapai 100.000 burung dewasa. Menurut International Union for Conservation of Nature, burung ini dikategorikan sebagai Near Threatened atau mendekati terancam punah.

Sungguh sayang jika mendekati terancam punah. Burung yang hidup di Paparan Sunda mencakup mulai dari selatan Bukit Tenasserim, Myanmar, Tenggara Thailand, Sabah, Sarawak,  Semenanjung Malaka, Brunei, Kalimantan dan Sumatera harus dilindungi keberadaannya dari perburuan liar yang mengancam kehidupannya.
Selain burung Kuau Raja yang terancam punah masih ada tiga jenis burung lain mendekati kepunahan. Menurut Lembaga Konservasi Dunia atau International Union for Conservation of Nature (IUCN), dinyatakan mendekati terancam punah, meliputi luntur kasumba (Harpactes kasumba), julang jambul hitam (Aceros corrugatus) dan cekakak hutan melayu (Actenoides concretus).

Kepodang


Kepodang adalah burung berkicau (Passeriformes) yang mempunyai bulu yang indah dan juga terkenal sebagai burung pesolek yang selalu tampil cantik, rapi, dan bersih termasuk dalam membuat sarang. Kepodang merupakan salah satu jenis burung yang sulit dibedakan antara jantan dan betinanya berdasarkan bentuk fisiknya. Burung kepodang termasuk jenis burung kurungan karena dibeli oleh masyarakat sebagai penghias rumah, oleh karenanya burung ini masuk dalam komoditas perdagangan yang membuat populasinya semakin kecil. 


Penyebaran

Burung kepodang berasal dari daratan China dan penyebarannya mulai dari India, Asia Tenggara, kepulauan Philipina, termasuk Indonesia yang meliputi Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Burung ini hidup di hutan-hutan terutama di daerah tropis dan sedikit di daerah sub tropis dan biasanya hidup berpasangan . Di pulau Jawa dan Bali burung kepodang sering disebut dengan kepodang emas.

Morfologi

Burung kepodang berukuran relatif sedang, panjang mulai ujung ekor hingga paruh berkisar 25 cm.  Burung ini berwarna hitam dan kuning dengan strip hitam melewati mata dan tengkuk, bulu terbang sebagian besar hitam. Tubuh bagian bawah keputih-putihan dengan burik hitam, iris merah, bentuk paruh meruncing dan sedikit melengkung ke bawah, ukuran panjang paruh kurang lebih 3 cm, kaki hitam. Burung ini menghuni hutan terbuka, hutan mangrove, hutan pantai, di tempat-tempat tersebut dapat dikenali dengan kepakan sayapnya yang kuat, perlahan, mencolok & terbangnya menggelombang.